November 2023

Pameran karya P5 Wardah Inspiring Teacher 2023

Pameran Karya WIT di Palembang: 12 Sekolah Unjuk Hasil Belajar P5

Kampus Pemimpin Merdeka (KPM) bersama PT Paragon Technology and Innovation (ParagonCorp) menggelar Festival Pameran Karya. Kegiatan berlangsung pada Sabtu (25/11) di Balai Guru Penggerak Provinsi Sumatera Selatan, Palembang. Acara ini sekaligus merupakan perayaan belajar bagi 2000 guru peserta Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2023. WIT merupakan program apresiasi untuk guru berupa program belajar untuk meningkatkan kompetensi. Pada tahun ini, peserta mendapat pelatihan dan pendampingan untuk menerapkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) selama tiga bulan. Baca juga: 15 Sekolah di Makassar Tampil di Festival Pameran Karya P5 “Guru peserta WIT tidak hanya belajar, namun juga berbagi mengenai apa yang sudah dipelajari. Ini ruang yang kami fasilitas untuk berbagi. Tentu harapannya, kedepan, 2000 guru ini terus berbagi praktik baik, di berbagai kesempatan,” terang Rizqy Rahmat Hani, ketua KPM. Sebagai komponen baru, masih banyak guru dan sekolah yang bingung bagaimana menerapkan P5. Tidak sedikit yang mengalami miskonsepsi, sehingga hasil belajar murid tidak maksimal. Melalui pameran karya, guru dapat belajar dari guru lain yang telah menerapkannya terlebih dulu. Karya yang ditampilkan tidak hanya menunjukkan hasil akhir, melainkan juga proses dan tantangannya. Baca juga: 20 Sekolah di Batu & Malang Tampil di Festival Pameran Karya P5 “Seringkali saat belajar dengan sistem projek, kita terjebak pada miskonsepsi yang fokus pada produknya. Di pameran ini, kami mau perlihatkan, kalau projek itu outputnya nggak harus berupa produk. Apalagi P5 tujuannya pembentukan karakter murid. Proses sangat penting dalam membentuk karakter murid,” kata Rizqy. Selain Palembang, Festival Pameran Karya juga akan digelar di Bogor, Makassar, dan Batu pada awal Desember mendatang. Di Palembang terdapat 12 sekolah terlibat sebagai pengisi pameran dan 8 guru berbagi praktik baik. P5 Kewirausahaan: Pembelajaran Terdiferensiasi Tumbuhkan Jiwa Entrepreneurship Murid Latifah Tul Hariyah, salah seorang peserta WIT yang terpilih untuk berbagi praktik baik di pameran itu, menceritakan pengalamannya menerapkan P5 tema kewirausahaan. Tahun ini merupakan tahun kedua bagi sekolahnya mengimplementasi Kurikulum Merdeka. Dia mengaku, pada tahun pertama, penerapan P5 di sekolahnya guru masih mendominasi sebagai fasilitator. Akibatnya, ide murid tidak muncul serta antusias murid tidak terlihat.  “Saat ikut WIT baru tercerahkan. Kami coba memakai panduan Buku Sukses Projek Profil Kampus Guru Cikal yang diberikan. Di situ ada alur temukan, bayangkan, lakukan, dan bagikan. Kami ikuti setiap langkah-langkahnya, rasanya setiap aktivitas jadi lebih bermakna, murid lebih antusias belajar,” kata guru SMP Pusri Palembang itu. Baca juga: Festival Pameran Karya P5 di Bogor Pada alur temukan, Latifah bersama rekan guru fasilitator P5 memberikan pertanyaan pemantik ke murid. Mereka juga mengajak murid bermain kartu produk dan layanan. Murid bermain peran sebagai usahawan dan pelanggan di koperasi sekolah. Selanjutnya pada tahap bayangkan, murid berdiskusi mengenai kebutuhan dan keinginan. Lalu mereka melakukan survey di sekitar sekolah dengan pertanyaan yang disiapkan secara berkelompok. Latifah juga mendatangkan narasumber pengusaha lokal untuk memberi pengetahuan tambahan untuk murid. Setelah mendapat banyak pandangan baru, Latifah membantu murid mengeluarkan ide kewirausahaan versi mereka sendiri. Kemudian di tahap lakukan, murid mendapat kesempatan untuk belajar langsung membuat produk atau layanan yang mereka inginkan. Murid juga membuat perencanaan keuangan dan pemasarannya. Tahap akhir, murid mendapat kesempatan untuk memasarkan karyanya. Selain itu, ada pameran karya untuk merayakan proses belajar murid. “Sangat surprise bagi kami adanya galeri lukisan dan booth foto sketch yang mereka buka dan menerima jasa untuk dibuatkan lukisan dan foto sketch. Luar biasa perubahan dan diferensiasi yang terjadi pada murid-murid kami yang mulai tumbuh jiwa entrepreneur sejak dini,” tutup Latifah. (YMH)

Pameran Karya WIT di Palembang: 12 Sekolah Unjuk Hasil Belajar P5 Read More »

projek profil pancasila murid SMP

Festival Siap Kurikulum Merdeka: Projek Profil yang Tepat

Kampus Pemimpin Merdeka menggelar Festival Siap Kurikulum Merdeka pada Jumat (17/11) sore hari secara daring. Festival tersebut bertujuan memperluas praktik baik peserta program Siap Kurikulum, seperti penerapan projek profil, pembelajaran berdiferensiasi, dan penggunaan media ajar. Dari 324 peserta batch 1-4, terpilih 12 guru asal berbagai daerah yang berkesempatan berbagi praktik baiknya. Diantaranya Alia Yovica, guru SMP Negeri 29 Sijunjung, dan Dewi Handayani, guru SD Negeri 13 Sanggau. Projek Profil “Stop Bullying”, Tingkatkan Empati Murid Pada projek sebelumnya, Alia bersama rekan gurunya masih salah paham terhadap penerapan projek profil. Projek profil yang Alia adakan tiga bulan sebelumnya itu masih mengharuskan murid menghasilkan produk. Hal tersebut berdampak pada murid, banyak yang mengatakan bosan. Setelah mengikuti program Siap Kurikulum, Alia baru mengetahui tujuan utama projek profil, yakni menjadikan murid bagian dari problem solver atas masalah di sekitarnya. Dari pemahaman itu, hasil projek berbentuk produk bukan sebuah kewajiban. “Kami, koordinator dan fasilitator duduk bersama dulu. Kami sepakati alur aktivitasnya, yaitu tahap pengenalan, kontekstualisasi, aksi, refleksi, dan tindak lanjut. Sesuai yang kami pelajari di program Siap Kurikulum,” terang Alia. Mereka sepakat, pembelajaran P5 setiap hari Selasa hingga Sabtu, tiap harinya 2 jam pelajaran. Kegiatan pertama adalah memberikan sosialisasi projek ke murid agar mereka paham mengapa murid perlu melakukan projek tersebut. Selama sepuluh minggu, aktivitas yang dilakukan adalah, analisis video bullying, mencurahkan bentuk-bentuk bullying yang pernah diterima, menyampaikan hal yang disukai dan tidak dalam pertemanan, melakukan kerjasama dengan pihak sosial dan kepolisian untuk pendalaman ilmu, kampanye anti bullying di sekolah, dan yang terakhir membuat naskah drama. “Pada aktivitas kami sering memberikan kemerdekaan untuk memilih sesuai minatnya. Seperti misalnya saat membuat dan memperagakan naskah drama, murid mendapat kebebasan untuk memilih apakah dramanya tentang bullying verbal, fisik, atau relasional,” kata Alia. Pada sesi terakhir, Alia mengajak murid untuk berefleksi terkait apa yang sudah mereka pelajari dan apa yang ingin mereka perbaiki. Murid menyatakan pembelajaran seru karena aktivitas yang beragam. Mereka juga menyampaikan bahwa jadi lebih mengetahui tindakan apa saja yang disebut bullying dan bertekad untuk lebih menyayangi teman-temannya. Kolaborasi Antar Mapel untuk Kenalkan Budaya Sanggau Sedangkan Dewi berbagi pengalamannya menggabungkan mata pelajaran IPS dan Bahasa Indonesia untuk mengenalkan budaya Sanggau.  Saat itu, materi IPS yang sedang dibahas adalah mengenai budaya negara ASEAN. Sedangkan pada pelajaran bahasa Indonesia, murid diharapkan memiliki kompetensi untuk menyajikan kesimpulan secara lisan dan tulis dari hasil pengamatan dan wawancara. Setelah mengajak murid berdiskusi, Dewi mengajak murid untuk menonton macam-macam tarian daerah Sanggau. Pasalnya, dari hasil diskusi, banyak yang tidak tahu sama sekali mengenai seni budaya daerah yang ada di Kalimantan Barat itu. “Baru setelahnya saya ajak mereka ke Dekranasda, Dewan Kerajinan Nasional Daerah, lalu ke rumah pengrajin sulam kalengkang khas Sanggau. Murid menyiapkan pertanyaan untuk melakukan wawancara,” jelas Dewi. Dari hasil wawancara tersebut, murid menyimpulkan, oleh-oleh yang paling laris adalah gantungan kunci. Mereka pun menyepakati ingin membuat gantungan kunci khas Sanggau untuk nantinya dititipkan di Dekranasda. Murid berdiskusi ingin membuat gantungan kunci seperti apa. Dewi membantu dengan memberi tontonan video kerajinan tangan khas Sanggau. Murid sepakat memilih gantungan kunci berbahan dasar daun, ada yang daun pisang kering, daun pakis, daun nangka, dan daun rambutan. “Kami kemudian ke toko bahan bersama-sama. Murid belajar berkomunikasi dengan penjual. Setiap murid mendapat peran, misalnya ada yang bertugas mencatat pengeluaran, menghitung item bahan, dan lainnya,” jelas guru kelas 6 itu. Dewi mengungkapkan, pembelajaran ini membuat murid lebih bersemangat untuk berangkat sekolah. Murid juga belajar untuk memberi dan mengembangkan ide. Selain itu, murid jadi lebih peka, saling tolong menolong satu sama lain. “Saya juga salut ketika setelah selesai mereka membersihkan dan membereskan peralatan sendiri tanpa komando dari saya,” tutup Dewi.

Festival Siap Kurikulum Merdeka: Projek Profil yang Tepat Read More »

Abdul Mujib di puncak Temu Pendidik Nusantara X

Kepsek Asal HST Senang Dapat Solusi Pendidikan di TPN X

Cerita Guru Belajar menggelar puncak Temu Pendidik Nusantara X (TPN X) di Basketball Hall, Gelora Bung Karno, pada Sabtu (21/10). Sebelumnya, rangkaian TPN X telah dimulai sejak akhir Mei lalu, kemudian digelar di 50 daerah pada Agustus-September, dan daring untuk 100 lebih daerah di awal Oktober. TPN X merupakan forum tahunan kesepuluh yang memfasilitasi unjuk karya penggerak perubahan pendidikan melalui tantangan praktik baik, pameran karya, dan apresiasi.  Forum ini diikuti oleh lebih dari 16.000 pendidik dari berbagai daerah dan 2500 diantaranya hadir di puncak. Abdul Mujib, salah seorang peserta asal Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, menempuh beberapa jam perjalanan demi hadir di puncak TPN X. Dia bersyukur bisa hadir karena mendapat suntikan energi dan inspirasi dari pendidik lainnya. “TPN itu event miliknya guru-guru. Di sini kita merayakan belajar kita. Bisa bertemu dengan teman-teman, ngobrol, rasanya luar biasa,” kata Mujib yang saat ini menjabat sebagai kepala SMP Negeri 24 Hulu Sungai Tengah itu. Mujib mengaku, dia sempat berbincang dengan guru asal Pesisir Selatan, Tuban, Mojokerto, Kupang, dan Medan. Dari obrolan tersebut, dia mendapat ide kolaborasi pendidikan yang harus dia inisiasi ketika kembali di HST. Dapat Penghargaan Sebagai Kepala Sekolah yang Berdampak di Daerah Dia juga senang karena di puncak TPN X, dia mendapat penghargaan sebagai kepala sekolah yang berdampak untuk ekosistem pendidikan di daerah asalnya. Mujib mengaku, apresiasi seperti itu baru pertama kali dia dapatkan, meskipun sudah lama mengabdi sebagai pendidik selama 14 tahun. “Iya ini pertama kali. Ternyata, apa yang saya lakukan ada juga ya yang melihat. Tentu itu bukan tujuan saya melakukan perubahan, tapi saya senang ketika ada orang lain yang melihatnya. Bahkan bapak bupati mengucapkan selamat,” cerita Mujib. Mujib mendapatkan penghargaan tersebut karena telah berhasil melakukan beragam upaya agar anak-anak setempat mau melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Dia juga pernah menjadi penghubung informasi ke media massa ketika HST tersebut terkepung banjir sehingga bantuan datang ke daerah terisolir itu. Dia mengatakan, sudah menyiapkan oleh-oleh spesial untuk guru penggerak di komunitas belajarnya, Komunitas Guru Belajar Nusantara Hulu Sungai Tengah. Oleh-oleh itu berupa inspirasi pameran karya murid yang baru dia dapatkan ketika menghadiri puncak TPN X. “Saya kagum dengan pameran karya murid yang tidak harus mewah, yang terpenting bermakna. Pameran sederhana itu bisa menjawab keresahan guru-guru di HST yang seringkali terjebak pemikiran, miskonsepsi, bahwa pameran karya harus terlihat mahal,” ungkap Mujib. Di puncak TPN X, ada 33 karya murid yang dipamerkan. Setiap murid siap memberikan penjelasan mengenai karyanya ketika ada pengunjung yang mampir. Karya berupa solusi atas permasalahan yang mereka temukan di sekitar. Tahun depan, rencananya CGB akan mulai menggelar rangkaian Temu Pendidik Nusantara XI bulan Februari. Tema yang diangkat adalah “Pemimpin Pendidikan yang Berdaya”.   (YMH)

Kepsek Asal HST Senang Dapat Solusi Pendidikan di TPN X Read More »

Rusma Yul Anwar

Rusma Yul Anwar: Bupati yang Dulunya Seorang Guru

Enam kepala daerah mendapatkan “Dewi Sartika Awards” dari Yayasan Guru Belajar (YGB). Mereka mendapat penghargaan karena mendukung pergerakan guru di daerahnya untuk membentuk ekosistem yang merdeka belajar. Penghargaan ini diberikan saat perhelatan puncak Temu Pendidik Nusantara X (TPN X) di Basketball Hall, Gelora Bung Karno, pada Sabtu (21/10). Enam bupati tersebut yakni H. Syah Afandin (Langkat), Rusma Yul Anwar (Pesisir Selatan), Ilham Syah Azikin (Bantaeng, 2018-2023), Paolus Hadi (Sanggau), Heru Budi (DKI Jakarta), dan Edimin (Labuhanbatu Selatan). “Ini sebuah pengakuan  pada individu, organisasi, dan pemerintah daerah, yang telah berkontribusi dalam perubahan pendidikan merdeka belajar,” kata Bukik Setiawan, ketua YGB. Selain Dewi Sartika Awards, diberikan pula “Ki Hajar Dewantara Awards” untuk guru merdeka belajar, “Rohana Kudu Awards” untuk guru yang berkarya dan berkarier protean, “dan “Mohammad Syafei Awards” untuk organisasi profesi yang aktif berkolaborasi untuk mewujudkan ekosistem merdeka belajar. “Guru terlalu banyak beban, terlalu sedikit penghargaan. Melalui apresiasi ini, kami berharap bisa penguat untuk guru untuk terus melanjutkan perjuangan. Perubahan pembelajaran yang melampaui ruang kelas,” jelas Bukik. Bukik berharap, apresiasi menjadi standar yang bisa menjadi teladan dalam dunia pendidikan. Apresiasi bukanlah reward, melainkan pengakuan dan penguatan untuk mereka yang telah bekerja keras mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada anak Rusma Yul Anwar Beri Apresiasi Pendidik di Pesisir Selatan Rusma Yul Anwar, bupati Pesisir Selatan, hadir secara langsung di puncak TPN X untuk menerima penghargaan tersebut. Pada kesempatan itu, dia menegaskan, pemimpin daerah memang seharusnya mendukung guru untuk terus belajar. “Saya berterima kasih dan mengapresiasi sebesar-besarnya pada guru-guru di Pesisir Selatan, yang tanpa kami suruh, tanpa kami minta, memiliki inisiatif untuk terus belajar agar kompetensinya meningkat, agar pendidikan di Pesisir Selatan terus membaik,” kata Rusma. Selain hadir untuk menerima penghargaan, kehadiran Rusma juga untuk mendampingi 39 guru dari daerahnya tersebut yang belajar di puncak TPN X. Di acara ini, ada empat tim dari Pesisir Selatan yang mengikuti Cerdas Cermat Guru (CCG) level nusantar. CCG merupakan sebuah upaya dari YGB untuk meningkatkan kompetensi guru melalui cara yang seru. Sebelum menjadi kepala daerah di salah satu kabupaten di Sumatera Selatan itu, Rusma memiliki pengalaman panjang di dunia pendidikan. Dia pernah mengajar di Payakumbuh dan menjadi kepala sekolah di Painan. Dia mengungkapkan, pengalaman tersebut sangat berharga karena membuatnya memahami betapa pentingnya peran guru. Namun, guru juga membutuhkan dukungan dari banyak pihak, termasuk pemerintah daerah. “Semangat belajar 39 guru ini perlu mendapat apresiasi. Mereka melakukan perjalanan darat ke Jakarta. Guru yang bergerak ini sangat mendukung perubahan pendidikan di Pesisir Selatan,” pungkas Rusma. (YMH)

Rusma Yul Anwar: Bupati yang Dulunya Seorang Guru Read More »

Iwan Syahril di Temu Pendidik Nusantara X

Iwan Syahril: 3 Hal yang Harus Dimiliki Guru Abad ke-21

Cerita Guru Belajar menggelar talkshow bertajuk “Guru Masa Kini untuk Murid Abad 21”. Talkshow ini masuk dalam rangkaian puncak Temu Pendidik Nusantara X yang diadakan pada Sabtu (21/10) di Basketball Hall, Gelora Bung Karno. Pada kesempatan tersebut hadir Iwan Syahril, Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek, sebagai narasumber. Menurut Iwan, ada tiga hal yang harus tercermin oleh guru di abad ke-21. Pertama, memiliki filosofi yang berpihak pada murid. Indikatornya adalah mereka menjadi guru memang karena keinginan hati untuk melayani murid. “Menjadi guru untuk menjadi guru. Kadang tercampur, jadi guru untuk jadi pekerjaan atau sekadar status . Apa yang kemudian sering terjadi? Ketika, oh, saya sudah dapat status ini, sudah, perfomanya mentok,” jelas Iwan. “Tapi ketika guru menjadi guru, ada keinginan untuk terus mau meningkatkan kompetensi. DI abad manapun, guru seperti ini yang kita butuhkan,” lanjutnya. Kedua, guru untuk murid abad ke-21 dan masa depan perlu memiliki pikiran terbuka dan terus belajar. Lalu yang ketiga, menjadi guru problem solver. Guru problem solver tidak terus fokus pada masalahnya, melainkan berusaha mencari penyelesaiannya. “Filosofinya, tak ada rotan, akar pun jadi. Dia akan lihat, ada apa di sekitarnya dan memanfaatkannya untuk memberikan pembelajaran terbaik untuk murid-muridnya,” terang Iwan. Iwan menjelaskan, Kurikulum Merdeka dan berbagai kebijakan di dalamnya merupakan upaya pemerintah membentuk ekosistem pendidikan yang guru masa kini butuhkan. Kurikulum Merdeka memberikan kepercayaan pada guru untuk bisa berinovasi, memberikan pembelajaran yang dibutuhkan oleh murid yang beragam setiap daerahnya. Paragon Mendukung Lahirnya Guru Abad ke-21 Suci Hendrina, Head of CSR PT Paragon Technology and Innovation, turut hadir menjadi narasumber talkshow. Dia mengatakan, selain pemerintah, pihak korporasi pun perlu memberikan dukungan pada guru. “Peran korporasi membersamai guru-guru untuk grow bareng. Kami di Paragon membersamai melalui Wardah Inspiring Teacher. Itu adalah wadah  untuk kita sama-sama punya tempat belajar bareng,” terang Suci. Suci pun menyepakati jika murid membutuhkan guru yang bisa memahami kebutuhan muridnya. “Kalau di korporasi namanya consumer centric, kalau di Bapak/Ibu guru konsumennya adalah murid, pihak yang sangat butuh dipahami,” tutur Suci. Selain itu, menurutnya murid juga butuh guru yang memiliki kerendahan hati untuk terus belajar. Dia berharap, forum seperti Temu Pendidik Nusantara bisa terus menginspirasi guru untuk bisa menjadi pelajar sepanjang hayat. Tidak hanya Iwan dan Suci, talkshow tersebut juga menghadirkan Emma Sri Martini, direktur keuangan PT Pertamina dan Tuty Marmiaty, guru penggerak Komunitas Guru Belajar Nusantara Langkat. (YMH)

Iwan Syahril: 3 Hal yang Harus Dimiliki Guru Abad ke-21 Read More »