Kampus Pemimpin Merdeka

WWF Indonesia dan Guru Belajar Foundation Luncurkan Buku Panduan Keluarga Bebas Sampah

World Wide Fund for Nature Indonesia (WWF Indonesia) bersama Guru Belajar Foundation (GBF) meluncurkan buku panduan elektronik “Keluarga Bebas Sampah: Refleksi dari Rumah untuk Bumi yang Lebih Baik” baru-baru ini secara daring. Buku ini merupakan respon atas isu iklim yang seringkali terasa jauh dan abstrak, padahal dampaknya mempengaruhi keluarga, baik hari ini maupun masa depan. Karya kolaboratif ini memberikan panduan praktis bagi keluarga untuk memulai perjalanan gaya hidup bebas sampah.  “Buku ini sekaligus mengajak untuk kita bersama-sama berkomitmen bagaimana menciptakan lingkungan sekolah dan juga rumah. Karena kita tahu pastinya perubahan kecil itu semuanya berawal juga dari rumah,” jelas Dwi Widya Mutiara, Education Officer WWF Indonesia.  Baca juga: Deep Learning Kembalikan Esensi Peran Guru Dwi berharap, buku ini dapat memperkuat peran keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dan mendukung gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan minim sampah. “Kita yakin ini adalah kolaborasi bersama untuk kita wujudkan lingkungan kita menjadi lebih baik. Dan pastinya kita harus memulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, dan mulai dari hal kecil,” ucap Dwi. “Sekolah bebas sampah bukan mimpi. Kita tahu dan kita bisa kalau kita mau bergerak bersama,” lanjutnya. Buku elektronik ini akan digunakan oleh sekolah dampingan WWF dan GBF dalam program Zero Waste School. Namun, aksesnya gratis dan terbuka untuk seluruh sekolah dan keluarga yang ingin ambil bagian dalam upaya menciptakan gaya hidup berkelanjutan. Terdiri dari 19 halaman, buku ini ditulis dengan memadukan beberapa gaya penulisan, dari persuasif, naratif, hingga informatif. Di awal, pengguna buku akan diajak membayangkan bagaimana gaya hidup sehari-sehari berdampak pada lingkungan dan kualitas hidup. Baca juga: Respon Pendidik terhadap Sekolah Barak: Mendidik Tidak Bisa Instan Lalu dilengkapi dengan lembar aktivitas, praktik baik, pemantik diskusi, hingga rekomendasi bacaan atau tontonan lanjutan. “Buku ini mungkin nggak bisa langsung membuat sampah di rumah jadi semakin sedikit, tetapi harapan saya buku ini jadi pembuka percakapan dulu bahwa sebetulnya ini tuh (zero waste) bisa jadi sesuatu yang kita usahakan,” terang Puty Puar dari Buibu Baca Buku, yang turut menyusun buku ini bersama GBF. “Justru yang paling penting disampaikan pertama kali kepada orang tua dari buku ini adalah bagian awalnya, bagian kenapanya, itu yang penting. Kadang kita tahu harus memilah sampah, tapi kita nggak tahu kenapanya” lanjutnya. Menurut Puty, kolaborasi antara sekolah dan orangtua akan memberikan dampak yang signifikan. Dia yakin, pesan gerakan zero waste akan lebih mudah diterima oleh orangtua jika disampaikan oleh guru. “Apalagi kalau sudah bisa jadi bagian dari tugas sekolah atau refleksi bersama di sekolah, ini bisa lebih besar dampaknya,” tutup Puty.  (YOSI)

WWF Indonesia dan Guru Belajar Foundation Luncurkan Buku Panduan Keluarga Bebas Sampah Read More »

Strategi Penerimaan Murid Baru Agar Diminati Orang Tua

Kekurangan murid masih menjadi tantangan bagi banyak sekolah, baik swasta maupun negeri. Di masa penerimaan murid baru seperti saat ini, sekolah mulai masif menjalankan strategi promosi. Namun, menurut Lina Wijayanti, guru sekaligus Wakil Direktur Bidang Pendidikan Yayasan Alkhairiyah Surabaya, sekolah perlu membangun nilai tambah (added value) yang tersampaikan ke masyarakat jika ingin usaha promosinya berhasil. Hal ini tidak bisa hanya dilakukan pada masa penerimaan murid baru tapi sepanjang tahun secara konsisten.  “Nilai tambah ini bagaimana kita menyeimbangkan quality in fact dan quality in perception,”  terang Lina di webinar “Rahasia Sukses Penerimaan Murid Baru” yang merupakan rangkaian belajar Festival Pemimpin Merdeka oleh Kampus Pemimpin Merdeka baru-baru ini. Baca juga: STEAM Fair Murid SD di Babel: Timah Rusak Lingkungan Quality in fact merupakan apa yang dimiliki dan dihasilkan oleh sekolah secara nyata. Misalnya, standar kinerja, akreditasi, tingkat kelulusan, fasilitas fisik, dan mutu pengajaran. Sedangkan quality in perception adalah bagaimana masyarakat menilai sekolah. Strategi Daya Saing Sekolah: Positioning, Diferensiasi, dan Branding Untuk menyeimbangkan quality in fact dan quality of perception, sekolah perlu memperhatikan tiga hal yakni positioning, diferensiasi, dan branding. Positioning Positioning merupakan cara sekolah menempatkan dirinya di mata masyarakat terutama calon murid dan wali murid. Setidaknya ada tiga pertanyaan yang perlu direfleksikan untuk dapat menentukan positioning. Tiga pertanyaan tersebut yakni, (1) apa kekuatan utama sekolah? (2) seperti apa citra sekolah yang ingin ditanamkan ke masyarakat?, dan (3) siapa target utama sekolah? “Dari jawabannya kita bisa menyimpulkan positioningnya. Misalnya sekolah yang pernah saya datangi itu ada sekolah STEAM yang mendorong kreativitas dan inovasi, setiap tahun itu pasti ada festival STEAM nya,” papar Lina. “Ketika mengidentifikasi, ditulis semua dulu hasil brainstormingnya, entah nanti mungkin ada evaluasi di tengah jalan, itu tidak apa-apa,” lanjutnya. Baca juga:          2. Diferensiasi Melalui diferensiasi, sekolah menunjukkan keunikan sehingga ada added value dibanding sekolah lain.  Beberapa hal yang perlu dijawab sekolah untuk menentukan diferensiasi adalah (1) apa program akademik inovatif yang dimiliki? (2) apa pendekatan pembelajaran yang digunakan? (3) apa saja fasilitas pendukung pembelajaran? (4) apa program ekstrakurikuler yang menjadi unggulan, dan (5) bagaimana sistem bimbingan dan konseling murid? Baca juga: Cara Andi Zupriaty Hadapi Murid SMK dengan Stigma Nakal “Program unggulan seperti misalnya menawarkan blended-learning. Kalau sekolah saya, karena positioningnya adalah sekolah islam, maka program unggulannya yang mendukung hal tersebut, yakni ada Ubudiyah dan Alquran Everyday,” jelas Lina.      3. Branding Setelah menentukan positioning dan diferensiasi, saatnya sekolah melakukan branding. Branding adalah proses komunikasi agar positioning dan diferensiasi yang dimiliki sekolah tersampaikan ke publik sehingga membentuk persepsi positif. Ada beberapa komponen branding sekolah yakni (1) identitas visual seperti logo hingga seragam sekolah, (2) pesan dan ternilai yang tersampaikan melalui tagline, (3) reputasi dan testimoni,(4)  aktivitas promosi melalui media sosial, open house, dan partisipasi dalam lomba, dan (5) kesan positif. Semua Warga Sekolah Terlibat Di akhir webinar, Lina menegaskan, keberhasilan membangun persepsi di mata masyarakat perlu dilakukan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah.  “Tidak seorang pun luput untuk menyiarkan keluar. Semua guru bahkan tendik dapat pelatihan dan pendampingan. Misal tagline kita generasi Al Quran, maka gurunya juga perlu punya kualitas tersebut,” jelas Lina. “Atau brandingnya sekolah joyful, maka kita perlu pantau dalam pembelajaran, apa ya yang kurang? Jangan sampai brandingnya demikian, tapi ternyata tidak,” pungkasnya. (YOSI) Liputan ini telah terbit sebelumnya pada April 2025.

Strategi Penerimaan Murid Baru Agar Diminati Orang Tua Read More »

STEAM Fair Murid SD di Babel: Timah Rusak Lingkungan

Guru memiliki peran penting membersamai murid agar menjadi peka dan solutif untuk masalah di sekitarnya. Peran tersebut dijalankan dengan baik oleh Wardah Fepriyani, guru SD MHIS Bangka, Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Sejak belajar di program Wardah Inspiring Teacher 2024 yang diselenggarakan oleh ParagonCorp dan Kampus Pemimpin Merdeka, dia aktif merefleksikan proses belajar muridnya. Hingga salah satu praktik baik mengajarnya lolos dipublikasikan di buku Bangga Menjadi Guru, Berani Menginspirasi.  Melalui tulisannya, Fepriyani menceritakan bagaimana dia memfasilitasi murid untuk memahami krisis lingkungan di daerah mereka, Babel. Babel merupakan salah satu provinsi penyumbang timah terbesar di Indonesia. Dampak perbaikan ekonomi dibarengi dengan kerusakan alam terutama karena banyaknya tambang ilegal. Hal tersebut yang menggerakkan Fepriyani membawa isu timah ke kelasnya. “Perubahan kualitas udara dan cuaca sangat dirasakan oleh masyarakat di sini. Sebagai guru, saya merasa bertanggung jawab membangun kesadaran murid tentang hal ini,” jelasnya. Isu Lokal Meningkatkan Antusiasme Murid Belajar Pembelajaran dimulai dengan menunjukkan data dan foto area tambang ke murid lalu menanyakan pendapat mereka. Murid riuh mengutarakan perasaannya, beberapa mengaku sedih. Sebelumnya murid telah belajar mengenai pemanasan global. Namun belum menyadari jika hidup mereka sudah terpengaruh oleh hal tersebut. Melalui pembelajaran ini, barulah mereka bisa menghubungkan konsep tersebut dengan isu lokal. “Ada yang bertanya, berarti pemanasan global itu sudah kita rasakan ya di sini? Ternyata sebelumnya murid tidak menyadari kalau suhu panas di Babel adalah bagian dari pemanasan global akibat eksploitasi alam,” jelas Fepriyani. Selanjutnya, murid ditantang merumuskan kontribusi positif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu ini. Banyak ide bermunculan, seperti kampanye digital, menyebarkan poster, menanam pohon, dan sebagainya. Dari ide murid, Fepriyani kemudian mengusulkan projek miniatur tiga kondisi bumi. Masing-masing miniatur menggambarkan keadaan bumi yang penuh lubang timbang panah, keadaan bumi yang panas akibat pembakaran timah, dan ketiga yaitu keadaan bumi yang ideal dengan pohon-pohon hijau. Hal tersebut disetujui oleh murid. Murid kembali mengumpulkan data lalu berkreasi membuat miniatur. Hasilnya dipresentasikan saat STEAM Fair akhir semester yang mengundang banyak tamu termasuk orangtua murid dan masyarakat sekitar. Feripriyani mengaku haru saat ada murid yang dengan lantang mengajak tamu yang hadir untuk berkolaborasi menghentikan tambang timah ilegal. “Sebagai guru, momen itu menguatkan keyakinan saya bahwa pendidikan mampu menanamkan nilai-nilai mulia yang dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat,” tutup Fepriyani. (YOSI)

STEAM Fair Murid SD di Babel: Timah Rusak Lingkungan Read More »

media-ajar-literasi-finansial

50 Guru Bagikan Inspirasi Media Ajar Literasi Finansial di FESTIFIN

SMBC Indonesia bersama Guru Belajar Foundation (GBF) sukses menggelar Festival Media Literasi Finansial dan Karier Protean (FESTIFIN) pada Kamis (28/10) dan Jumat (29/10) secara daring. Lebih dari 1500 peserta aktif mengikuti FESTIFIN melalui Zoom dan siaran YouTube. FESTIFIN adalah perayaan belajar peserta program Guru Kreatif Cerdas Finansial (GKCF) yang bertujuan mendukung pemberdayaan guru melalui peningkatan kompetensi literasi finansial dan pengembangan karier. Sebanyak 50 narasumber di festival ini merupakan bagian dari 187 penggerak literasi finansial yang lulus dari program GKCF. Mereka berbagi praktik baik melalui media edukasi yang telah mereka rancang. Rizqy Rahmat Hani, ketua Kampus Pemimpin Merdeka, unit pelaksana dari GBF, mengatakan, FESTIFIN merupakan langkah strategis agar dampak peningkatan literasi finansial peserta bisa meluas ke banyak guru dan murid. “FESTIFIN jadi wadah untuk guru saling memberdayakan, kemarin sudah dapat ilmu, sekarang membagikan ilmunya ke guru lain yang belum dapat kesempatan. Harapannya semua guru berdaya terhadap kondisi keuangannya, sehingga berdampak juga ketika mereka mengajar,” Guru yang melek literasi finansial berpotensi lebih besar untuk mengintegrasikan literasi finansial dalam proses belajar mengajar, mewujudkan pembelajaran yang kontekstual dengan membantu membekali murid dengan permasalahan nyata di sekitar mereka, termasuk pemahaman tentang pengelolaan finansial yang baik. Baca juga: Pelatihan Media Ajar: 3 Hal yang Penting Saat Merancang Prototipe “Guru berdaya tidak hanya mampu mengelola uang yang didapat dari gaji bulanan tapi bagaimana menambah pemasukan lewat karier protean,” tambah Rizqy. GBF menyiapkan sesi khusus mengenai pengembangan karier protean di FESTIFIN. Guru sebenarnya memiliki peluang yang luas untuk mengembangkan karier protean, seperti menjadi guru konten kreator, guru pelatih, guru pembuat media ajar, dan lainnya. Selain menambah pemasukan, karier protean meningkatkan kepuasan kerja, mendorong pengembangan diri, serta memberikan fleksibilitas bagi guru untuk berkontribusi lebih sesuai minat mereka tapi masih sejalan dengan kehidupan belajar dan mengajar di kelas.   Guru Buat Media Ajar Seru untuk Sesama Guru Tamsiruddin, guru UPTD SMP Negeri 1 Parepare, narasumber FESTIFIN, mengungkapkan, kemampuan literasi finansial guru membutuhkan perhatian. “Penghasilan guru itu seringnya 5,0, artinya masih tanggal lima atau awal bulan tapi saldo sudah 0 koma,” katanya. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengelolaan yang bijak sehingga masih terjebak cicilan non produktif. Parahnya, tidak sedikit guru yang berakhir terjerat hutang pinjaman online (pinjol) ilegal. Merespon situasi tersebut, Tamsiruddin berinisiatif membuat media edukasi Kartu CUAN. Dipresentasikan saat FESTIFIN, Kartu CUAN merupakan kalkulator sederhana untuk membantu guru mengelola pendapatan mereka agar lebih efisien. Baca juga: Membuat Media Ajar Bermakna Bisa Gunakan Artificial Intelligence “Kartu ini bisa digunakan oleh yang gajinya di atas 5 juta maupun di bawah 5 juta. Semoga kita semua bisa konsisten dan istiqomah mengelola keuangan agar bisa terhindar dari impulsive buying dan hutang non produktif. Bisa menabung bahkan investasi,” paparnya. Ada beragam media menarik lainnya, salah satunya buku dikemas menyerupai learning management system (LMS) sehingga lebih interaktif. Buku ini menuntun pembacanya untuk memahami konsep keuangan dari dasar, lengkap dengan permainan mengatur keuangan, hingga asesmen. (YMH)

50 Guru Bagikan Inspirasi Media Ajar Literasi Finansial di FESTIFIN Read More »

media ajar literasi finansial

Workshop Uji Coba Media Literasi Finansial Bersama SMBC Indonesia

Memperingati Hari Guru Sedunia, SMBC Indonesia menggandeng Guru Belajar Foundation (GBF) dan Komunitas Guru Belajar Nusantara menggelar workshop “Pembelajaran Inovatif dan Manajemen Finansial yang Kuat” pada Sabtu (5/10) di Jakarta dan Minggu (6/10) di Yogyakarta dan Makassar. Workshop ini merupakan bagian dari bootcamp Guru Kreatif Cerdas Finansial (GKCF) yang telah berlangsung daring selama sebulan. Pada sesi daring, peserta belajar mengatur keuangan dan membuat media ajar untuk murid dengan prinsip design thinking. Sedangkan pada workshop, peserta ditantang melakukan uji coba purwarupa media ajar terkait literasi finansial. Media ajar tidak ditujukan penggunaannya untuk murid melainkan sesama guru. “Beasiswa belajar ini merupakan komitmen Bank BTPN untuk menjadi sahabatnya Bapak/Ibu guru. Kami peduli pada pendidikan dan kami percaya kemajuan pendidikan ujung tombaknya adalah guru dan kami ingin membersamai Bapak/Ibu,” kata Dody Safrizal, Area Business Leader Pension Business & Area Head Jakarta dalam sambutannya. Topik workshop lahir dari keresahan Bank BTPN dan YGB terhadap kesulitan guru dalam mengelola keuangan pribadi. Rendahnya rata-rata pendapatan guru mendorong mereka mengembangkan karier protean sehingga memiliki berbagai sumber pendapatan. Namun, hal ini tidak dibarengi dengan kecakapan mengatur keuangan. Baca juga: Membuat Media Ajar Bermakna Bisa Gunakan Artificial Intelligence “Saat kami membuka pendaftaran beasiswa ini, antusiasmenya luar biasa sekali hingga 9000 lebih pendaftar. Kami kagum terhadap semangat belajar Bapak/Ibu guru. Saya berharap Bapak/Ibu yang mendapat kesempatan belajar di sini menularkan ilmunya ke guru lain yang belum mendapat kesempatan,” tutur Dody. Uji Coba Media Ajar Literasi Finansial Dalam uji coba, peserta dibagi dalam kelompok kecil untuk memperkenalkan media ajar literasi finansial yang  sudah mereka rancang, yang kemudian dinilai oleh sesama anggota kelompok. Intan Irawati, peserta dari MAN 15 Jakarta, mengungkapkan perasaan syukurnya karena kini bisa membuat media ajar yang lebih bermakna. Dia menceritakan, setelah mengikuti sesi daring GKCF, dia sudah mulai membuat media ajar dengan design thinking untuk murid-muridnya. “Perubahan terjadi pada murid saya, mereka lebih antusias belajar fisika. Murid yang awalnya lebih banyak diam, sudah mulai berani mengemukakan pendapat. Saya pun rasanya menjadi lebih dekat dengan murid, murid tidak sungkan lagi mengemukakan kesulitan,” ungkap Intan. Baca juga: Pelatihan Media Ajar: 3 Hal Penting Saat Merancang Prototipe “Sekarang saya ditantang membuat media ajar yang dapat membantu sesama guru. Semoga media yang saya buat useful dan efektifitas tinggi agar bisa membantu meningkatkan kemampuan dalam mengelola keuangan bagi para penggunanya,” lanjutnya. Dia menceritakan pengalaman sahabatnya yang pernah datang dengan menangis, ternyata karena terlilit pinjol. Intan tidak ingin hal tersebut terjadi lagi ke orang-orang di sekitarnya, sehingga dirinya sangat bersemangat ketika mendapat tantangan dari program GKCF. Setelah uji coba, ada sesi belajar membuat konten yang diisi oleh Ria Farrabila, guru konten kreator yang video pembelahrannya sering viral di Instagram. Sesi ini mengajak peserta agar selalu membagikan praktik baik termasuk praktik membuat media ajar ke media sosial. Tujuannya agar dapat menginspirasi guru lain yang belum mendapat kesempatan menjadi penerima beasiswa GKCF. (YOSI)

Workshop Uji Coba Media Literasi Finansial Bersama SMBC Indonesia Read More »