Kampus Pemimpin Merdeka

media ajar dengan design thinking

Pelatihan Media Ajar: 3 Hal Penting Saat Merancang Prototipe

Anggayudha Ananda Rasa, atau akrab disapa Aye, pelatih Guru Belajar Foundation kembali menjadi pembicara sesi belajar mengenai media ajar. Sesi ini dilaksanakan pada Senin (9/9) secara daring via Zoom dan diikuti 800 peserta program beasiswa bootcamp “Guru Kreatif Cerdas Finansial”. Setelah menjelaskan proses design thinking untuk membuat media ajar pada pertemuan sebelumnya, kali ini Aye menjelaskan lebih dalam langkah merancang purwarupa. Purwarupa media ajar merupakan model awal dari sebuah media ajar yang dibuat untuk diuji sebelum ada versi finalnya. Purwarupa pada umumnya dibuat untuk menguji fungsi atau fitur dari media ajar sehingga jika ada hal yang belum sesuai, masih bisa diperbaiki. “Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan saat merancang purwarupa, yaitu menentukan tujuan, menentukan cara mendapatkan data, dan menentukan cara menyimpulkan hasil purwarupa,” terang Aye. Baca juga: Membuat Media Ajar Bermakna Bisa Gunakan Artificial Intelligence Pertama, setelah menentukan tujuannya, guru atau pembuat media ajar perlu menguraikan apa saja indikator dari ketercapaian tujuan tersebut. “Nah, di sini maka perlu juga kita punya hipotesis atau dugaan sementara,” jelas Aye. “Hipotesis yang baik adalah hipotesis yang dapat diuji, tepat, dan spesifik. Misalnya, bukan ‘saya percaya bahwa murid akan menyukai permainan papan siklus air ini’, melainkan ‘saya percaya lebih dari 50% murid akan suka permainan ini karena cara bermainnya mudah membantu mereka mempelajari materi siklus air’, lebih clear dan memudahkan kita membuat indikatornya kan?,” lanjut Aye. Dia juga menegaskan, jangan sampai terjebak merangkai hipotesis yang sulit, melainkan fokus pada tujuan dari pembuatan media ajar. Jika tujuannya adalah murid paham materinya, maka pastikan dari hipotesis hingga penyimpulannya memang ke arah tersebut Baca juga: Guru Belajar Foundation Luncurkan Program Cerdas Finansial Lalu untuk mengumpulkan data, Aye memberi contoh dari pengalamannya. Data bisa dikumpulkan dari survey ke murid, observasi langsung saat murid menggunakan media ajarnya, memberi asesmen ke murid, hingga refleksi. Kemudian pembat media ajar bisa menyimpulkan hasil purwarupanya, apa saja yang perlu diperbaiki atau sudah baik. “Dalam perjalanan membuat media ajar, dalam hal ini purwarupanya, perlu terus diingat kalau media ajar yang bagus bukan yang secara fisik bagus, tapi yang bermanfaat untuk murid, tujuannya ke murid. Jadi pertanyaan mendasarnya adalah apakah media ajarnya sudah sesuai dengan kebutuhan belajar murid?,” tutup Aye. (YOSI)

Pelatihan Media Ajar: 3 Hal Penting Saat Merancang Prototipe Read More »

Wardah Inspiring Teacher 2024

6000 Guru Ikut Onboarding WIT: Guru Tidak Bisa Berhenti Belajar

PT Paragon Innovation and Technology (ParagonCorp) bersama Guru Belajar Foundation (YGB) menggelar Onboarding Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2024 yang diikuti oleh 6000 guru dari seluruh penjuru nusantara. Orientasi yang diadakan pada Rabu (12/09) secara daring tersebut mengawali proses belajar para guru selama empat bulan kedepan di program WIT 2024. Lina Wijayanti, alumnus WIT 2023 yang juga merupakan konten kreator di Instagram dengan pengikut 100 ribu lebih, hadir sebagai narasumber untuk memberi dukungan pada peserta. Dia mengapresiasi program WIT yang memberikan program beasiswa guru untuk belajar. “Tantangan sebagai guru itu kan banyak ya, tahun sekarang sama tahun kemarin saja sudah beda. Ilmunya pasti ada perubahan, kita nggak bisa kalau hanya mengandalkan ilmu-ilmu semasa kuliah dulu, atau pengalaman sendiri, itu nggak bisa,” kata Lina. “Nah, Bapak/Ibu di sini sudah memegang kunci perjalanan untuk bisa mendapat harta karun, pembelajaran yang kita butuhkan sebagai guru tapi dulu kita nggak dapat nih ilmunya di perkuliahan. Jadi selamat sekali lagi untuk Bapak/Ibu yang sudah terpilih di sini dari 18000 plus plus pendaftar. Tinggal bagaimana nanti memaksimalkan itu,” lanjutnya. Baca juga: 22 Guru dan Relawan dari Amerika Serikat Berbagi Praktik Baik Harta karun yang dimaksud Lina adalah semua sesi belajar WIT 2023 dan juga beberapa kelas tambahan. Dirinya mengaku terkejut saat ada pengumuman kelas tambahan yang menurutnya menarik dan sangat dia butuhkan. Beberapa kelas yang disebut Lina adalah manajemen energi untuk guru, membangun komunitas bersama orangtua, dan strategi fasilitasi. “Di sini saya kayak ditampar, karena saya sebagai guru terkadang mengesampingkan perasaan diri sendiri, keluarga, anak, kolega. Dan ilmu psikologi yang disampaikan di kelas manajemen energi ini saya jadi tahu saya harus bagaimana. Pada setiap surprise materi ini selalu ada AHA moment,” ungkap Lina. Lina juga menyampaikan, setidaknya ada tiga hal positif yang dia dapatkan setelah ikut WIT 2023, yakni adanya perubahan pola pikir untuk menjadi guru yang berpihak pada murid, mendapat koneksi lebih luas yang menjadi awal kolaborasi, dan kesempatan mengembangkan karier protean. Rizqy Rahmat Hani, ketua Kampus Pemimpin Merdeka, unit pelaksana WIT 2024, menjelaskan, program ini akan berkelanjutan dengan empat tahapan. Empat tahapan tersebut yakni (1) mengubah dirinya, (2) mengubah kelasnya, (3) mengubah aktivitas kelas, dan (4) berdampak untuk sekitar. Setiap tahap akan mendukung guru untuk menjadi sosok yang inspiratif untuk ekosistem pendidikan. Oleh karenanya, pada tahap pertama, salah satu materinya adalah membuat konten yang menginspirasi setelah mendapat materi tentang bangga menjadi guru dan pelatihan guru merdeka belajar. “Ketika teman-teman sudah bangga menjadi guru, sering refleksi, yang kami percaya kalau disebarkan ke teman-teman lainnya, akan bisa menginspirasi, jadi nggak cuma untuk dirinya sendiri,” jelas Rizqy. Baca juga: Masuk Semester Genap Lebih Siap, Gunakan Backwar Design “Sebelum berdampak ke ekosistem, harus bisa mengubah dirinya sendiri, bangga terhadap profesinya, menjadi berdaya, lalu mulai memberdayakan kelasnya, baru ke ekosistem luas,” tutup Rizqy kembali menegaskan mengenai guru yang menginspirasi. Sebagai informasi, setiap akhir tahapan WIT 2024 akan ada asesmen yang menjadi penentuan apakah peserta lolos ke tahap berikutnya. Dari 6000 guru yang mengikuti onboarding akan disaring 3000 guru menjadi peserta resmi WIT 2024 dan berhak mengikuti tahap pertama. Selanjutnya, pada tahap kedua 2500 peserta, tahap ketiga 2000 peserta, dan tahap terakhir 1500 peserta. (YOSI)

6000 Guru Ikut Onboarding WIT: Guru Tidak Bisa Berhenti Belajar Read More »

Mengatur keuangan untuk guru

Ahli Keuangan: Hanya 10% Guru Merasa Cukup dengan Gajinya

Guru Belajar Foundation berkolaborasi dengan SMBC Indonesia menggelar webinar pelatihan literasi keuangan bertajuk “Menjadi Guru Sejahtera Kini dan Nanti” yang digelar secara daring pada Senin (23/09). Kegiatan ini digelar merespon tingginya jumlah pendidik yang terjerat pinjaman online (pinjol) ilegal. Menurut survey dari IDEAS pada bulan Mei 2024 yang dipaparkan oleh Dian Savitri, perencana keuangan dan expert daya.id SMBC Indonesia, narasumber webinar, menyebutkan, hanya sekitar 10% guru merasa pendapatannya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ditambah posisi menjadi sandwich generation, dimana harus membiayai orangtua dan anak, menambah beban berat finansial guru yang saat ini mayoritas berasal dari generasi milenial. “Oleh karena itu, bapak dan ibu guru pun perlu untuk melek keuangan, paling tidak menguasai dan menjalankan perencanaan keuangan agar tidak terjebak hutang bahkan sampai hutang ke pinjol,” kata Dian. Baca juga: Guru Belajar Foundation Luncurkan Program Cerdas Finansial Dian menyoroti pentingnya guru mengatur cashflow dengan memperhatikan penggunaan pendapatan bulanan, pendapatan per tiga bulanan seperti sertifikasi, dan pendapatan tahunan seperti THR. Pendapatan bulanan bisa digunakan untuk pengeluaran rutin yang sudah dianggarkan, termasuk cicilan bila ada. Lalu untuk pendapatan lainnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sekunder hingga investasi hari tua. “Cicilan maksimal 30% dari pendapatan agar cashflow aman. Kalau gaji masih UMR, diusahakan sekali ya agar tidak punya cicilan, lebih baik tabung dan kalau sudah terkumpul baru digunakan untuk membeli yang dibutuhkan,” jelas Dian mengingatkan. Hindari Pinjaman Ilegal Cashflow negatif atau lebih tingginya pengeluaran dibanding pendapatan, dapat mendorong guru untuk mencukupinya dengan hutan. Namun, perlu diperhatikan pengelolaannya, salah satunya adalah dengan menghindar dari pinjaman ilegal. “Ciri-cirinya itu pasti tidak terdaftar di OJK, alamat dan nomor pengaduan tidak jelas, bunganya sangat tinggi, penawarannya langsung ke WhatsApp atau SMS pribadi, dan kadang calon korban diminta transfer dulu untuk biaya administrasi. Tolong hati-hati jangan sampai tergiur,” terang Dian. “Kemudian pastikan juga kalau memang ada uang yang untuk membayar, masa gunanya melebihi tenor hutang, tidak berhutang untuk gaya hidup. Pokoknya benar-benar dikontrol. Misal hutang untuk menutupi hutang lain, itu sudah tidak sehat ya,” lanjutnya. Terakhir, Dian juga menyampaikan agar sebaiknya guru juga memiliki dana darurat, yakni dana yang siap digunakan kapan saja saat kondisi darurat dan tidak masuk dalam anggaran rutin. Dana darurat bisa dikumpulkan dengan menyisihkan 10%-20% dari pendapatan bulanan. (YOSI)

Ahli Keuangan: Hanya 10% Guru Merasa Cukup dengan Gajinya Read More »

media ajar literasi finansial

Guru Belajar Foundation Luncurkan Program Cerdas Finansial

Guru Belajar Foundation (GBF) berkolaborasi dengan SMBC Indonesia meluncurkan program beasiswa belajar “Guru Kreatif Cerdas Finansial” (GKCF) pada Senin (19/08) secara daring. GKCF bertujuan meningkatkan dua kompetensi guru yakni kompetensi membuat media ajar dan kompetensi literasi finansial. Guru Kreatif Membuat Media Ajar Sekaligus Cerdas Finansial Peningkatan kompetensi ini diharapkan dapat mendukung guru menghadapi tantangan yang sering mereka temui di dalam kelas dan di luar kelas. Di dalam kelas, guru seringkali terjebak membuat media ajar yang terlihat keren tapi ternyata tidak berdampak pada murid. Baca juga: Ahli Keuangan: Hanya 10% Guru Merasa Cukup dengan Gajinya Di luar kelas, banyak guru terjerat pinjaman online (pinjol) karena rendahnya pendapatan, manajemen keuangan yang kurang efisien, serta pengetahuan yang minim tentang jasa keuangan yang ilegal.  “Saya pun termasuk guru yang pernah miskonsepsi membuat media ajar. Dulu saya sering membuat media ajar yang keren dan saya pikir inovatif. Nyatanya, saya membuat media ajar yang tidak dibutuhkan murid, jadi sebenarnya tidak berdampak pada pembelajaran murid,” ungkap Rizqy Rahmat Hani, ketua Kampus Pemimpin Merdeka, unit pelaksana program GKCF. Rizqy menuturkan, peserta program akan belajar selama empat bulan agar dapat merancang media ajar yang bermakna, yakni dengan konsep design thinking. Peserta juga akan didampingi bagaimana memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu membuat media ajar. “Media ajar ini diharapkan tidak hanya bermanfaat untuk pembelajaran di kelas guru itu sendiri tapi juga guru lain. Bagaimana caranya? Ini yang namanya guru dengan karier protean. Guru bisa membuat media ajar bermakna lalu dijual ke guru lain. Banyak guru dan murid lain terdampak, kesejahteraan finansial guru pembuatnya pun membaik,” kata Rizqy. 9324 Guru Mendaftar dan Akan Diseleksi Sejak dibuka pendaftarannya pada 30 Juli lalu, 9324 guru telah mendaftar program GKCF. Nantinya peserta akan diseleksi komitmennya. Pada tahap satu, 1000 peserta berhak mendapat pelatihan membuat media ajar dan literasi finansial. Lalu 300 guru dipilih untuk lanjut mendapatkan pendampingan merancang prototipe media ajar. Pada akhir program, akan ada perayaan belajar dengan format festival, di mana 175 peserta terpilih akan berbagi praktik baik mengenai media ajar yang berhasil dibuatnya. Melalui sesi ini, diharapkan ilmu membuat media ajar tidak berhenti pada peserta GKCF saja tapi juga guru secara luas. Game-Based Learning Tingkatkan Literasi Keuangan Ala Guru Pekalongan Nunuk Riza Puji, ketua Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) sekaligus guru penggerak di Kabupaten Pekalongan yang hadir sebagai salah satu narasumber peluncuran GKCF membagikan pengalamannya merancang media ajar seru terkait literasi keuangan. Dia menjelaskan, media ajar tersebut dibuat dengan memahami kultur kehidupan masyarakat Indonesia yang bergotong royong terkait keuangan. Misalnya, sering ada sumbangan untuk kegiatan agama, arisan, tetangga menikah, yang seringkali sulit diukur jumlah pengeluaran perbulannya. “Jadi saya dan teman-teman di komunitas merancang game yang cukup kompleks tapi seru. Ceritanya ada dua keluarga ayam yang punya tujuan finansial, lalu ditantang mengatur pendapatannya agar tujuannya bisa tercapai,” jelas Nunuk. “Di tengah perjalanan menuju goalsnya akan ada tantangan seperti yang kita hadapi sehari-hari, misalnya mobil perlu diservis. Kemudian tantangan atas godaan pengeluaran yang lain yang sifatnya bukan kebutuhan tapi keinginan,” sambungnya. Dari refleksi guru maupun murid yang sudah pernah memainkan game ini, Nunuk percaya bahwa kompetensi literasi finansial bisa dicapai dengan banyak cara, termasuk dengan permainan seperti ini. Dia berharap program GKCF melahirkan banyak guru kreatif dan inovatif dalam membuat media ajar yang juga bisa berdampak untuk para murid dan dirinya sendiri. (YOSI)

Guru Belajar Foundation Luncurkan Program Cerdas Finansial Read More »

Relawan Peace Corps bersama beberapa peserta festival kurikulum merdeka

22 Guru dan Relawan dari Amerika Serikat Berbagi Praktik Baik

Kampus Pemimpin Merdeka (KPM) berkolaborasi dengan Peace Corps (badan independen pemerintah Amerika Serikat yang mengirimkan relawan untuk bertugas di berbagai negara), menggelar Festival Kurikulum Merdeka (FKM) di Hotel Yello Surabaya pada Senin (26/08). Kegiatan ini merupakan perayaan belajar bagi 22 guru bahasa Inggris dan relawan Peace Corps yang selama dua bulan ini mendapat pendampingan dari KPM. Secara daring, guru asal Jawa Timur, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur itu mendapat pelatihan implementasi Kurikulum Merdeka. “FKM ini bertujuan merayakan proses belajar peserta, merayakannya dengan berbagi praktik baik mengajar mereka. Jadi apa yang mereka pelajari bersama kami dan sudah mereka coba terapkan bisa juga menjadi inspirasi untuk guru-guru lain di luar sana,” terang Rizqy Rahmat Hani, ketua KPM. Meskipun diadakan secara luring di Surabaya, peserta FKM berasal dari berbagai daerah. Pasalnya, KPM dan Peace Corps menyediakan live streaming yang pesertanya stabil di angka 250.  “Terima kasih untuk Peace Corps yang mau terlibat untuk peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Senang sekali mendengar praktik baik dari guru dan relawan pada hari ini. Pembelajaran bahasa Inggris yang tidak hanya menyenangkan tapi juga bermakna,” kata Rizqy Baca juga: Asesmen Kompetensi Guru Belajar: Guru Butuh Pelatihan yang Tepat Ananda Roman, Program Manager Peace Corps Indonesia menjelaskan, projeknya ini ingin mendukung prioritas pendidikan pemerintah Indonesia saat ini. Oleh karenanya, para guru diberi pendampingan untuk menerapkan student center dan P5, yang terdapat pada Kurikulum Merdeka. “Kami berharap program ini dapat berdampak untuk guru dan murid sampai di daerah terpencil,” tuturnya. “Terkadang guru kesulitan menerjemahkan konsep yang ada di Kurikulum Merdeka, praktisnya yang kontekstual seperti apa, yang cocok untuk murid-muridnya, oleh karena itu program ini ada,” lanjutnya. Total terdapat sebelas praktik baik yang dibagikan, ada yang bercerita pengalamannya mengajar dengan permainan, media pembelajaran, hingga bermacam-macam teknologi di internet. Salah satunya praktik baik dari Sefti guru MTs di Kediri bersama relawan Peace Corps bersama Sarah, yang membagikan media pembelajaran kartu bernama The Rising Cards. Baca juga: Festival Siap Kurikulum Merdeka: Projek Profil yang Tepat The Rising Cards merupakan kartu yang dapat membantu murid memeriksa kemajuan belajar dirinya sendiri. Setiap pertemuan, murid mendapat pertanyaan dan yang berhasil menjawab akan mendapat bintang untuk ditempel pada kartunya. Murid yang sudah dapat sepuluh bintang tidak bisa menjawab lagi melainkan memberi pertanyaan ke teman lainnya. Cara ini diharapkan menimbulkan perasaan ingin membantu antar murid. (YOSI)

22 Guru dan Relawan dari Amerika Serikat Berbagi Praktik Baik Read More »