Temu Pendidik Nusantara

Sebelas Ribu Guru Belajar di Temu Pendidik Nusantara XII di Daerah

Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) di Daerah telah sukses terselenggara di 44 kota/kabupaten sepanjang bulan Juni-Juli. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Guru Belajar Foundation (GBF) bersama Komunitas Guru Belajar Nusantara, Ikatan Guru Indonesia, dan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama. Tema “Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim” diusung sebagai upaya menegaskan pentingnya menciptakan suasana belajar yang berpihak pada anak termasuk urgensi kesiapan menghadapi krisis iklim yang merupakan tantangan nyata semua manusia.  Tema tersebut terdiri dari dua konsep berbeda tapi saling berpengaruh. Keduanya membutuhkan kapasitas kolektif dan mengedepankan pendekatan restoratif. Pendekatan restoratif berbicara mengenai tanggung jawab, empati, keadilan dan kesetaraan, keterlibatan semua pihak, serta relasi yang harmonis. Krisis Iklim Sangat Dekat dengan Murid Najelaa Shihab, pendiri GBF dan inisiator TPN, menjelaskan bahwa tema ini relevan dan dekat dengan seluruh ekosistem pendidikan karena iklim berbicara mengenai manusia. Dia memberi contoh isu sampah yang dihasilkan setiap orang. “Sampah itu bukan hanya pendidikan iklim tapi (juga) iklim pendidikan. Bayangin belajar di sekolah/madrasah yang penuh sampah, apa nggak mempengaruhi manusianya itu?,” paparnya saat mengisi talkshow Pembukaan TPN XII beberapa waktu lalu. Baca juga: Ratusan ‘Guru Belajar’ Diskusikan Pendidikan Iklim di Mojokerto  Menurutnya, mendorong murid proaktif terhadap krisis iklim berarti menyiapkan mereka untuk hidup. Pasalnya, menghadapi krisis iklim membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan lintas sektor. “(Hal tersebut) membutuhkan proses pembelajaran yang mendalam dan nggak bisa tiba-tiba, itu butuh proses panjang,” jelasnya. “Dan sekolah, kita, dapat amanah bersama anak-anak ini belasan tahun, adalah waktu untuk menumbuhkan semua pemahaman dan kompetensi itu,” lanjut Najelaa. Sebagai bentuk nyata dari tema yang diusung, TPN XII di Daerah menghadirkan beragam ruang belajar, yakni Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, Talkshow Pendidikan, Cerdas Cermat Guru, Pameran Karya Murid, dan Pasar Solusi Pendidikan. Sebanyak 525 pendidik berbagi praktik baik di Kelas Pendidik dan Kelas Pemimpin dengan lebih dari 11.000 peserta. Beberapa diantaranya mengenai disiplin positif, pembelajaran berdiferensiasi, media ajar, menghidupkan kombel, serta pelibatan masyarakat. Bukan Guru Hebat, TPN Adalah Ruang untuk Guru Belajar Abdulaziz Hafidhurrahman, ketua TPN XII, mengatakan, kelas ini memberikan ruang tumbuh bagi guru dengan belajar dari guru lainnya yang sudah terbukti menggerakkan perubahan pada level kelas, sekolah/madrasah, hingga komunitas dan daerah. “Di TPN kita tidak belajar dari pakar tapi dari sesama pendidik. Kita bukan “Guru Hebat” melainkan “Guru Belajar” karena semua yang hadir, baik peserta maupun pembicara, datang untuk belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama,” tutur Abdulaziz. Tidak hanya belajar dari sesama pendidik, TPN XII juga memfasilitasi belajar dari murid melalui Pameran Karya. Total 275 karya dipamerkan, menampilkan beragam gagasan, kreativitas, dan kepedulian murid terhadap isu-isu di sekitar mereka. Cerdas Cermat Guru: Pemantik Percakapan Tantangan Keseharian Guru Selain itu ada Cerdas Cermat Guru (CCG), cara belajar baru dan seru yang diikuti 1139 tim. Berbeda dengan program pengembangan kompetensi guru pada umumnya, CCG membantu guru mengetahui level kompetensinya. Baca juga: Kelas Pendidik & Pemimpin di Kota Makassar: Ruang Kolaborasi Antar Pendidik Setiap peserta mendapat Piagam Level Pengakuan Kompetensi dan umpan balik personal. Rumusannya berdasar pada Perdirjen GTK No. 2626 tahun 2023 tentang Model Kompetensi Guru. “CCG yang dirancang dengan format situational judgment test, yakni sesuai dengan keseharian guru, juga diharapkan memantik guru menjadikan tantangan di kelas dan solusinya menjadi percakapan sehari-hari,” terang Abdulaziz. Di bulan Agustus, TPN XII di Daerah masih akan berlangsung di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Setelah itu, seluruh pendidik akan diundang untuk hadir di Puncak TPN XII pada 11-12 Oktober mendatang di Sekolah Cikal Lebak Bulus. “Kami berharap, semangat belajar yang terbangun ketika TPN XII di Daerah tidak berhenti saat kegiatan selesai. Tapi menjadi titik awal keberlanjutan untuk saling belajar, menguatkan, dan membangun iklim pendidikan yang berpihak pada murid,” tutup Abdulaziz. (YOS)

Sebelas Ribu Guru Belajar di Temu Pendidik Nusantara XII di Daerah Read More »

Najelaa Shihab Soroti Urgensi Peran Berbagai Pihak untuk Pendidikan

Najelaa Shihab, pendiri Guru Belajar Foundation, hadir pada hari pertama penyelenggaraan Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) pada Sabtu (12/07).  Najelaa membersamai 1000 lebih guru belajar dengan menjadi pembicara talkshow, bagian dari rangkaian TPN XII di Kab. Sidrap.  Pada kesempatan itu, dia menekankan pentingnya guru sebagai penumbuh serta urgensi kolaborasi untuk pendidikan. Lokasi penyelenggaraan yang berada di alam terbuka, tepatnya di Hutan Kota Monumen Ganggawa, menurutnya memberi keuntungan tersendiri bagi peserta. “TPN sudah 12 tahun, belum pernah saya datang TPN dalam situasi seperti ini, betul-betul mengingatkan kita betapa pentingnya peran penumbuh,Betul-betul mengingatkan kita betapa pentingnya peran penumbuh,” kata Najelaa. Baca juga: PW Pergunu DIY Sukses Gelar Temu Pendidik Nusantara XII di Kab. Sleman “Mudah-mudahan ini juga mengingatkan kita bahwa manfaat kita apa yg sedang kita coba lestarikan itu jauh lebih panjang usianya daripada usia kita sebagai guru, insyaAllah jauh lebih panjang manfaatnya dibanding umur kita sebagai manusia,” lanjutnya setelah membahas usia pohon di sekitar yang mungkin berumur ratusan tahun. Maka dari itu, Najelaa menuturkan bahwa menjadi seorang guru adalah keberuntungan. Pasalnya, guru mendapat tanggungjawab yang merupakan kehormatan luar biasa.  Namun, dia mengingatkan, untuk menjadi seorang penumbuh, guru harus percaya bahwa murid punya bibit belajar dalam diri mereka. Murid datang ke ruang kelas dengan ambisi dan cita-citanya. “Mereka datang ke ruang kelas membawa sesuatu, bukan cuma menunggu dicekoki sesuatu,” tegasnya. Najelaa juga mengajak peserta untuk merefleksikan ajakan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, pada sambutan sebelum talkshow, untuk memiliki standar yang tinggi dalam menjalankan profesi guru. Dengan demikian, murid pun dapat tumbuh dan memberi dampak melampaui ruang kelas dan batas kabupaten. Pentingnya Kolaborasi untuk Pendidikan Di akhir paparan, Najelaa menyampaikan harapan agar guru aktif membangun kolaborasi. Sebaliknya juga mendorong agar seluruh stakeholder terbuka untuk kerjasama menguatkan pendidikan. “Murid-murid kita hidup dalam konteksnya, maka di TPN ini kita bicara “Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim” itu tidak ditentukan oleh satu dua orang, sama seperti udara, sama seperti cuara, yang menentukan bukan satu dua orang, bukan satu dua faktor, (melainkan) ditentukan oleh kolaborasi semua dari kita,” terangnya. Baca juga: Hari Pendidikan Nasioanl: Sistem Pendidikan Indonesia Butuh Arah yang Jelas  Menurutnya, banyak isu di ruang kelas, yang sebenarnya bukan masalah anak, bukan salah guru, melainkan terjadi karena iklim yang sudah terjadi puluhan tahun di sistem pendidikan kita. “Maka harapan saya, tugas utama sebagai guru, sebagai penumbuh adalah juga menumbuhkan jaringan, menumbuhkan kolaborasi, menguatkan kerjasama dengan siapapun. Dengan organisasi-organisasi profesi, dengan orangtua, dengan pedagang UMKM, dengan penggerak lingkungan hidup,” tukas Najelaa. “Titip harapan juga agar organisasi perangkat daerah (OPD), tidak hanya disdik, tidak hanya kanwil agama, tapi semua bagian dari pemerintahan melihat bahwa pendidikan itu hulu dan hilirnya banyak masalah,” tutupnya. Temu Pendidik Nusantara XII di Daerah telah sukses berlangsung di 45 daerah dengan total 12.000 lebih peserta. Lalu Puncaknya akan diselenggarakan pada 11-12 Oktober di Jakarta. (YOSI)

Najelaa Shihab Soroti Urgensi Peran Berbagai Pihak untuk Pendidikan Read More »

murid SMK,disiplin positif

Cara Andi Zupriaty Hadapi Murid SMK dengan Stigma Nakal

Murid SMK seringkali mendapat stigma nakal dan sulit disiplin, bahkan murid buangan. Namun bagi Andi Zupriaty, guru SMK Negeri 7 Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, murid-muridnya sama seperti manusia pada lainnya yang hanya butuh didengar dan dirangkul. Zupriaty mengaku, awalnya juga kesulitan menghadapi murid dan meresponnya dengan menjadi guru yang galak. Murid yang ribut sendiri, main gawai, kelaparan di pagi hari karena belum sarapan adalah kondisi yang Zupriaty hadapi sehari-hari. “Kondisi ini membuat saya jengkel dan marah, saya memarahi dan menceramahi, bicara panjang lebar tapi tidak berubah. Baru diceramahi, anak-anak berulah lagi, saya menjadi semakin marah, energi saya habis untuk marah-marah,” ceritanya. Beruntung bagi Zupriaty yang aktif mengikuti forum belajar secara daring, dia akhirnya menemukan praktik baik dari guru daerah lain yang menurutnya bisa menjawab kebutuhannya. Praktik baik tersebut yakni penggunaan asesmen diagnostik non kognitif yang dapat memahami aspek diri murid di luar kemampuan akademik.  Murid Punya Masalah di Luar Sekolah Asesmen dilakukan dengan membagikan selembar kertas berisi pertanyaan umum, minat, hingga kondisi pribadi murid. Jawaban setiap murid menjadi titik balik Zupriaty sebagai seorang guru. Banyak jawaban yang membuatnya terenyuh. Baca juga: Strategi Penerimaan Murid Baru Agar Diminati Orang Tua Ada murid yang menulis “bu, saya butuh perhatian” tapi ada juga yang mengembalikan kertas tanpa menjawab satu pertanyaan pun selain mengisi data diri. Saat ditanya langsung, murid hanya diam tidak menjawab. “Butuh waktu berbulan-bulan untuk sampai akhirnya saya bisa mendekati murid itu. Setiap hari mencoba melakukan pendekatan. Kadang saya temani cabut rumput, pungut sampah, duduk di teras kelasnya, sampai akhirnya dia mau cerita, meskipun sedikit,” ungkap Zupriaty. “Ternyata dia punya masalah keluarga yang berat. Dengan hebatnya dia masih bisa berangkat ke sekolah. Astaga, guru macam apa saya ini, selama ini hanya marah-marah tidak tahu kondisi murid,” lanjutnya. Konsistensi ini tidak hanya dilakukannya terhadap murid yang tindakannya menantang tapi semuanya. Setiap pagi Zupriaty datang ke kelas untuk bercerita dan mendengar cerita murid sambil sarapan. Perubahan Pembelajaran yang Berpihak Pada Murid Perubahan tidak hanya terjadi pada relasi murid dengan Zupriaty tapi juga murid dengan pembelajaran. Berdasar hasil asesmen, Zupriaty selalu merancang pembelajaran yang dibutuhkan oleh murid. “Saya menggunakan Kanvas Merdeka Belajar untuk memetakan yang perlu dipersiapkan untuk pembelajaran sesuai dengan hasil asesmennya. Murid jadi lebih meminati mata pelajaran yang saya ampu,” jelasnya. Baca juga: Kebijakan Penjurusan di SMA Perlu Dibatalkan Zupriaty mengurangi ceramah dan lebih sering memantik murid dengan pertanyaan. Dia juga sering menerapkan pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan dan kondisi murid yang berbeda sesuai hasil asesmen. Atas praktik baik yang berpihak pada murid ini, Zupriaty terpilih menjadi pembicara Puncak Temu Pendidik Nusantara XI akhir tahun lalu bersama 14 guru lainnya. Dia berpesan agar guru dan masyarakat tidak memberikan stigma pada murid SMK. “Semua murid itu istimewa, semua murid itu punya potensi untuk tumbuh dan berkembang,” “Sebagai guru sangat perlu mengambil peran bukan hanya menjejali ilmu pengetahuan, tapi juga membangun hubungan positif yang memanusiakan sebagai salah satu keterampilan hidup,” pungkasinya. (YOSI)

Cara Andi Zupriaty Hadapi Murid SMK dengan Stigma Nakal Read More »

Dukung 4500 Guru Belajar, Langkat Raih Penghargaan

Saiful Abdi, kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Langkat mendapat penghargaan “Empowered Education Management” dari Yayasan Guru Belajar (YGB), yang diserahkan saat Puncak  Temu Pendidik Nusantara (TPN) XI di Pos Bloc Jakarta pada Sabtu (2/11). Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Saiful Abdi, yang memilih untuk menjadi penggerak perubahan dalam pendidikan melalui berbagai inisiatif guna menciptakan pembelajaran yang berpihak pada anak di daerahnya. “Terima kasih untuk apresiasinya, terima kasih juga untuk Bapak Pj Bupati, Bapak Faisal Hasrimy, yang mengambil langkah konkret untuk mentransformasi pendidikan di Langkat. Semoga apa yang kita lakukan bersama memajukan kualitas pendidikan di Langkat,” kata Saiful. Saiful Abdi menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan berbagai pihak dalam sektor pendidikan. Disdik Kabupaten Langkat telah aktif berkolaborasi  dengan YGB sejak tahun 2021 pada program Sekolah Merdeka Belajar. Pencapaian tercatat ada 303 pemimpin sekolah/madrasah berbagi praktik baik merdeka belajar. Dia juga menceritakan pergerakan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Langkat yang terlibat aktif dalam berbagai program pengembangan kapasitas guru. Baca juga: 50 Guru Bagikan Inspirasi Media Ajar Literasi Finansial di FESTIFIN “Pencapaian ini adalah hasil dari kerja keras bersama. Dengan kolaborasi yang kuat kami semakin optimis dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan merata di Langkat,” tuturnya. Dalam ajang yang sama, Disdik Kabupaten Langkat juga meraih penghargaan sebagai “Dinas Pendidikan Berdaya” karena telah mendukung 4500 guru lebih untuk belajar di TPN XI di Langkat, terbanyak di antara 49 daerah lainnya. Dia mengatakan akan mendukung keberlanjutan dukungan terhadap penyelenggaraan TPN di Langkat, karena sesuai dengan kebutuhan belajar guru. Selain itu, dia juga menyoroti Cerdas Cermat Guru, asesmen formatif untuk mengetahui level kompetensi guru, yang membantu Disdik Langkat melakukan pemetaan kebutuhan guru. Disdik Langkat adalah Pemda yang Berdaya Maman Basyaiban, ketua TPN, menyampaikan apresiasinya pada semua penerima penghargaan karena telah berkomitmen menjadi pemimpin yang berdaya, yakni pemimpin yang mencari cara untuk mencapai tujuannya; perbaikan kualitas pendidikan di tengah banyaknya tantangan. “Mengapresiasi penerima penghargaan ini karena sadar kalau tantangan di pendidikan itu harus dihadapi bersama dengan kolaborasi. Bapak/Ibu mengambil peran di TPN  daerahnya masing-masing, berarti mau mendengarkan, percaya dan mendukung guru untuk #LanjutBelajar,” kata Maman. Maman menambahkan bahwa penghargaan ini tidak hanya merupakan bentuk pengakuan, tetapi juga menjadi ajakan bagi pemimpin pendidikan lainnya untuk lebih berperan aktif dalam mendukung guru dan membangun ekosistem pendidikan yang inklusif.  Baca juga: Guru Belajar di Tantangan Pendidikan Masa Depan “Harapan kami, semakin banyak pemimpin daerah dan sekolah menjadi penggerak perubahan pendidikan yang positif. Dengan bergandengan tangan, kita dapat membangun masa depan pendidikan yang lebih berpihak pada anak,” ujar Maman. Acara Puncak TPN XI di Pos Bloc Jakarta ini berhasil mempertemukan ribuan pendidik dan pemangku kepentingan pendidikan dari berbagai wilayah Indonesia. Melalui agenda seperti kelas debat, kelas pendidik, dan kelas penggerak, para peserta mendapatkan kesempatan untuk saling berbagi inspirasi, memperdalam pengetahuan, dan mempraktikkan kepemimpinan yang berdaya. (YOSI)

Dukung 4500 Guru Belajar, Langkat Raih Penghargaan Read More »

Guru Belajar di Tantangan Pendidikan Masa Depan

Beragam kebijakan dan pendekatan baru diterapkan dengan tujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan mendorong proses belajar yang lebih adaptif dan inovatif. Sebagai upaya untuk mendorong transformasi menghadapi tantangan pendidikan, Puncak Temu Pendidik Nusantara (TPN) XI menghadirkan talkshow bertajuk “Guru Belajar di Tantangan Pendidikan Masa Depan”, Sabtu (02/11) di Pos Bloc, Jakarta. Juliawati dari SD Negeri 08 Sanggau, Kalimantan Barat, yang hadir sebagai salah satu narasumber menyebutkan bahwa tantangan terbesar saat ini yakni mengintegrasikan teknologi secara efektif dan esensi pembelajaran agar tetap bermakna. “Di tengah keterbatasan di pelosok, saya sebagai guru menghadapi tantangan teknologi, saya mencoba untuk tetap menjaga esensi dari belajar dengan menggabungkan perkembangan teknologi yang ada serta pembelajaran yang bermakna,” ujar peraih Ki Hajar Dewantara Awards itu. Baca juga: Ujian Nasional Diperdebatkan: Seberapa Problematis? Menurutnya, adaptasi murid terhadap teknologi sangat bagus. Namun, hal tersebut tidak dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis serta tingkat emosional. “Ketika misal pembelajaran berbasis projek, kebutuhan riset, tetap memanfaatka teknologi. Tapi ketika refleksi, kolaborasi, biasanya tidak menggunakan teknologi tapi anak-anak berkumpul dalam kelompok kecil,” lanjutnya. Pendidikan adalah Kolaborasi Sedangkan Tya Ariestya, seorang publik figur yang hadir juga sebagai narasumber, menyoroti pentingnya kolaborasi orangtua dan guru dalam pendidikan anak.  “Suasana pembelajaran hari ini yang lebih menyenangkan akan menjadi jalan anak nyaman di sekolah. Materi dengan mudah tersampaikan juga kolaborasi antara guru dan orang tua menjadi kunci kebermaknaan pembelajaran,” jelasnya Pemintah pun mengambil peran penting dalam menjawab tantangan pendidikan masa depan. Hadir Widyaningtya Sistaningrum  yang memaparkan bagaimana posisi pemerintah dalam hal ini. Perwakilan dari BPMP Jakarta ini menggaris bawahi pentingnya kolaborasi dalam dunia pendidikan. Dia memaparkan bagaimana pemerintah, melalui BPMP, memberikan dukungan dengan menjamin mutu pendidikan. Baca juga: Temu Pendidik Nusantara Mendapat Pengakuan Internasional “Langkah yang bisa kami lakukan yakni dengan membaca setiap kebijakan pendidikan  yang ada, mengevalus serta monitoring  untuk meningkatkan dan menjamin mutu pendidikan di tingkat provinsi, termasuk pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan masyarakat,” pungkasnya. Penulis: Siti Fatonah Editor: YOSI

Guru Belajar di Tantangan Pendidikan Masa Depan Read More »