
Murid SMK seringkali mendapat stigma nakal dan sulit disiplin, bahkan murid buangan. Namun bagi Andi Zupriaty, guru SMK Negeri 7 Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, murid-muridnya sama seperti manusia pada lainnya yang hanya butuh didengar dan dirangkul.
Zupriaty mengaku, awalnya juga kesulitan menghadapi murid dan meresponnya dengan menjadi guru yang galak. Murid yang ribut sendiri, main gawai, kelaparan di pagi hari karena belum sarapan adalah kondisi yang Zupriaty hadapi sehari-hari.
“Kondisi ini membuat saya jengkel dan marah, saya memarahi dan menceramahi, bicara panjang lebar tapi tidak berubah. Baru diceramahi, anak-anak berulah lagi, saya menjadi semakin marah, energi saya habis untuk marah-marah,” ceritanya.
Beruntung bagi Zupriaty yang aktif mengikuti forum belajar secara daring, dia akhirnya menemukan praktik baik dari guru daerah lain yang menurutnya bisa menjawab kebutuhannya. Praktik baik tersebut yakni penggunaan asesmen diagnostik non kognitif yang dapat memahami aspek diri murid di luar kemampuan akademik.
Murid Punya Masalah di Luar Sekolah
Asesmen dilakukan dengan membagikan selembar kertas berisi pertanyaan umum, minat, hingga kondisi pribadi murid. Jawaban setiap murid menjadi titik balik Zupriaty sebagai seorang guru. Banyak jawaban yang membuatnya terenyuh.
Baca juga: Strategi Penerimaan Murid Baru Agar Diminati Orang Tua
Ada murid yang menulis “bu, saya butuh perhatian” tapi ada juga yang mengembalikan kertas tanpa menjawab satu pertanyaan pun selain mengisi data diri. Saat ditanya langsung, murid hanya diam tidak menjawab.
“Butuh waktu berbulan-bulan untuk sampai akhirnya saya bisa mendekati murid itu. Setiap hari mencoba melakukan pendekatan. Kadang saya temani cabut rumput, pungut sampah, duduk di teras kelasnya, sampai akhirnya dia mau cerita, meskipun sedikit,” ungkap Zupriaty.
“Ternyata dia punya masalah keluarga yang berat. Dengan hebatnya dia masih bisa berangkat ke sekolah. Astaga, guru macam apa saya ini, selama ini hanya marah-marah tidak tahu kondisi murid,” lanjutnya.
Konsistensi ini tidak hanya dilakukannya terhadap murid yang tindakannya menantang tapi semuanya. Setiap pagi Zupriaty datang ke kelas untuk bercerita dan mendengar cerita murid sambil sarapan.
Perubahan Pembelajaran yang Berpihak Pada Murid
Perubahan tidak hanya terjadi pada relasi murid dengan Zupriaty tapi juga murid dengan pembelajaran. Berdasar hasil asesmen, Zupriaty selalu merancang pembelajaran yang dibutuhkan oleh murid.
“Saya menggunakan Kanvas Merdeka Belajar untuk memetakan yang perlu dipersiapkan untuk pembelajaran sesuai dengan hasil asesmennya. Murid jadi lebih meminati mata pelajaran yang saya ampu,” jelasnya.
Baca juga: Kebijakan Penjurusan di SMA Perlu Dibatalkan
Zupriaty mengurangi ceramah dan lebih sering memantik murid dengan pertanyaan. Dia juga sering menerapkan pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan dan kondisi murid yang berbeda sesuai hasil asesmen.
Atas praktik baik yang berpihak pada murid ini, Zupriaty terpilih menjadi pembicara Puncak Temu Pendidik Nusantara XI akhir tahun lalu bersama 14 guru lainnya.
Dia berpesan agar guru dan masyarakat tidak memberikan stigma pada murid SMK. “Semua murid itu istimewa, semua murid itu punya potensi untuk tumbuh dan berkembang,”
“Sebagai guru sangat perlu mengambil peran bukan hanya menjejali ilmu pengetahuan, tapi juga membangun hubungan positif yang memanusiakan sebagai salah satu keterampilan hidup,” pungkasinya. (YOSI)


