
Guru memiliki peran penting membersamai murid agar menjadi peka dan solutif untuk masalah di sekitarnya. Peran tersebut dijalankan dengan baik oleh Wardah Fepriyani, guru SD MHIS Bangka, Kepulauan Bangka Belitung (Babel).
Sejak belajar di program Wardah Inspiring Teacher 2024 yang diselenggarakan oleh ParagonCorp dan Kampus Pemimpin Merdeka, dia aktif merefleksikan proses belajar muridnya. Hingga salah satu praktik baik mengajarnya lolos dipublikasikan di buku Bangga Menjadi Guru, Berani Menginspirasi.
Melalui tulisannya, Fepriyani menceritakan bagaimana dia memfasilitasi murid untuk memahami krisis lingkungan di daerah mereka, Babel. Babel merupakan salah satu provinsi penyumbang timah terbesar di Indonesia. Dampak perbaikan ekonomi dibarengi dengan kerusakan alam terutama karena banyaknya tambang ilegal.
Hal tersebut yang menggerakkan Fepriyani membawa isu timah ke kelasnya.
“Perubahan kualitas udara dan cuaca sangat dirasakan oleh masyarakat di sini. Sebagai guru, saya merasa bertanggung jawab membangun kesadaran murid tentang hal ini,” jelasnya.
Isu Lokal Meningkatkan Antusiasme Murid Belajar
Pembelajaran dimulai dengan menunjukkan data dan foto area tambang ke murid lalu menanyakan pendapat mereka. Murid riuh mengutarakan perasaannya, beberapa mengaku sedih.
Sebelumnya murid telah belajar mengenai pemanasan global. Namun belum menyadari jika hidup mereka sudah terpengaruh oleh hal tersebut. Melalui pembelajaran ini, barulah mereka bisa menghubungkan konsep tersebut dengan isu lokal.
“Ada yang bertanya, berarti pemanasan global itu sudah kita rasakan ya di sini? Ternyata sebelumnya murid tidak menyadari kalau suhu panas di Babel adalah bagian dari pemanasan global akibat eksploitasi alam,” jelas Fepriyani.
Selanjutnya, murid ditantang merumuskan kontribusi positif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu ini. Banyak ide bermunculan, seperti kampanye digital, menyebarkan poster, menanam pohon, dan sebagainya.
Dari ide murid, Fepriyani kemudian mengusulkan projek miniatur tiga kondisi bumi. Masing-masing miniatur menggambarkan keadaan bumi yang penuh lubang timbang panah, keadaan bumi yang panas akibat pembakaran timah, dan ketiga yaitu keadaan bumi yang ideal dengan pohon-pohon hijau. Hal tersebut disetujui oleh murid.
Murid kembali mengumpulkan data lalu berkreasi membuat miniatur. Hasilnya dipresentasikan saat STEAM Fair akhir semester yang mengundang banyak tamu termasuk orangtua murid dan masyarakat sekitar.
Feripriyani mengaku haru saat ada murid yang dengan lantang mengajak tamu yang hadir untuk berkolaborasi menghentikan tambang timah ilegal.
“Sebagai guru, momen itu menguatkan keyakinan saya bahwa pendidikan mampu menanamkan nilai-nilai mulia yang dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat,” tutup Fepriyani.
(YOSI)


