November 2023

menumbuhkan jiwa kepemimpinn murid

Empat Strategi Mengembangkan Jiwa Kepemimpinan Murid

Pengembangan jiwa kepemimpinan pada murid masih menghadapi tantangan nyata. Data dari Student Dialogue oleh Teach For Malaysia, tahun 2019, menunjukkan, hanya 39% murid yang merasa dirinya adalah pemimpin. Selain itu, 83% murid masih berpikir bahwa bahwa kepemimpinan hanya berkaitan dengan kedudukan daripada kompetensi. Pandangan seperti ini dapat menghambat individu untuk membawa perubahan. Strategi Mengembangkan Kepemimpinan Murid Revolusi industri 4.0 menuntut individu memiliki jiwa kepemimpinan. Patrick Emifiled,  koordinator Student Project Teach For Malaysia menjelaskan empat strategi mengembangkannya. Pembelajaran Sosial dan Emosional Orang dewasa pun terkadang masih kesulitan dalam menyampaikan emosi. Sama ketika orang bertanya kelebihan kita, kita tidak benar-benar mengetahui untuk menjawabnya secara tepat. “Kita perlu mengajarkan kompetensi untuk lebih mengenal dan memahami diri sendiri dan orang lain pada murid sejak dini. Bagaimana mereka lebih aware akan diri mereka sendiri dan sekelilingnya,” papar Patrick saat menjadi narasumber kelas internasional pekan Temu Pendidik Nusantara X pada Senin (9/10). Strategi sederhana yang dapat dilakukan adalah mengawali hari dengan menanyakan pada murid untuk menjelaskan perasaan mereka pada saat itu menggunakan skala 1-10. Komunikasi “Murid harus mampu berkomunikasi dengan efektif. Strategi yang pendidik dapat lakukan adalah melalui think, pair, and share,” ucap Patrick. Pendidik perlu memberi murid ruang dan waktu untuk berpikir terlebih dahulu sebelum membagikan opini di depan kelas. Untuk meningkatkan rasa percaya diri murid, guru pun dapat meminta murid lain untuk memberikan feedback. “Bisa saling berbagi komentar positif, misal ‘Hey, I like your idea’. Di sinilah pair bekerja. Saat murid merasa percaya diri dan siap, maka pendidik bisa mulai mempersilahkan mereka membagi pikirannya di depan kelas,” jelas Patrick di kelas yang diadakan oleh Cerita Guru Belajar itu. Resilience atau Kekuatan Mental “Bukan hal yang mudah untuk murid bangkit dari keterpurukan saat menghadapi kegagalan. Ada andil mengakarnya budaya orang tua Asia, bagaimana anak diharapkan untuk menjadi yang terbaik dan tidak menunjukkan struggle,” ucap Patrick. Hal ini tidak memberi ruang pada murid untuk berpengalaman menghadapi dan mengolah kegagalan. Guru patut memberi kesempatan murid untuk menjadi vulnerable sambil mengupayakan untuk menghadapi risikonya.  “Strategi yang dapat dilakukan adalah mengajak para murid bermain tongue twister. Menarik melihat satu sama lain kesulitan dan melakukan kesalahan saat mengucapkan kalimat-kalimat lucu yang rumit,” ucap Patrick. Bukan menertawakan kegagalan, tetapi bagaimana murid menerima kenyataan bahwa aman dan boleh untuk mereka melakukan kesalahan. Hal pentingnya adalah mereka terus bergerak menghadapi dan mengatasinya. Entrepreneurship Untuk entrepreneurship, Patrick menjelaskan strategi yang dapat guru lakukan adalah mendampingi murid menentukan personal learning goal mereka. “Setting goals menjadi sangat penting karena dapat membantu untuk on track dalam menentukan fokus dan energi murid. Ketika murid tahu apa tujuannya, mereka menjadi paham bahwa mereka harus benar-benar mewujudkannya.” Di akhir sesi Patrick menekankan bahwa guru harus yang pertama percaya bahwa murid mereka memiliki potensi dan mampu melakukan hal-hal besar. Apa pun kondisi, tantangan, dan kondisi yang mereka hadapi. “Jangan lupa komunikasikan terlebih dahulu pada murid, apa pesan dari setiap permainan dan strategi yang dilakukan. Sehingga mereka paham dan tujuan dari pengembangan kompetensinya dapat tercapai,” tutup Patrick mengingatkan. Penulis: Dasa Feby Editor: Yosinta Maharani Here

Empat Strategi Mengembangkan Jiwa Kepemimpinan Murid Read More »

Ide projek profil di sekolah

Darurat Iklim, Ini 3 Cara Menumbuhkan Green Behaviour di Sekolah

Cerita Guru Belajar berkolaborasi dengan PT Nutrifood Indonesia menggelar webinar “Menumbuhkan Green Behaviour di Sekolah”. Webinar yang digelar pada Senin (9/10) ini masuk dalam rangkaian belajar di Pekan Temu Pendidik Nusantara X. Pada kesempatan ini, Arninta Puspitasari, public relations and sustainability manager Nutrifood menjelaskan mengapa green behaviour perlu ditumbuhkan di sekolah dan hal apa yang bisa diinisiasi oleh guru. Dia mengatakan, green behaviour atau perilaku yang peduli pada lingkungan perlu waktu untuk bisa melekat pada seseorang. Hal itu pun juga terjadi padanya. “Setelah lima tahun setelah saya bergabung di tim sustainability di Nutrifood, ikut dalam tim pengolahan sampahnya, baru saya tergerak untuk ikut menerapkannya di rumah,” ungkap Arninta. Terintegrasi dalam Proses Belajar Guru memiliki peran penting untuk menumbuhkan green behaviour pada murid. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilai peduli lingkungan pada proses belajar. “Cara ini yang paling efektif. Bisa kita mulai dengan aktif berdiskusi, refleksi bersama murid terhadap kasus yang terjadi di sekitar seperti asap, banjir, tanah longsor. Lalu juga bisa diimplementasikan melalui projek profil,” terang Arninta. Untuk diketahui, projek profil merupakan pembelajaran korikuler di Kurikulum Merdeka untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila pada murid. Melalui projek profil, murid diharapkan bisa peka terhadap masalah di sekitarnya dan menjadi bagian dari solusinya. Penerapan projek profil tidak hanya bisa selesai dalam satu atau dua jam pelajaran, melainkan satu tema untuk satu semester. Oleh karena itu, guru dan murid memiliki waktu yang cukup untuk berdiskusi dan refleksi bersama. Mengaktivasi Personil Sekolah Di Nutrifood, ada program green champion, yang mana staf dengan kesadaran lebih terhadap green behaviour dikumpulkan dan diajak menjadi contoh bagi staf lain. Cara ini bisa diimplementasikan juga di sekolah. “Misalnya dibuat jadi green committee, isinya bisa guru, staf sekolah, dan murid yang memiliki inisiasi terhadap hidup yang menjaga dan peduli lingkungan. Atau ada orangtua murid yang tergabung dalam komunitas waste management misalnya, bisa diajak untuk mengisi sesi di sekolah,” kata Arninta. Kolaborasi dengan Pemangku Kepentingan Komitmen top management sekolah juga menjadi hal penting untuk meningkatkan green behaviour di sekolah. Sekolah bisa berkolaborasi dengan komunitas sekitar yang memiliki perhatian pada lingkungan. “Sekarang sudah banyak banget komunitas hijau. Siapa tahu ada yang di dekat sekolah Bapak/Ibu. Misalnya bank sampah, siapa tahu bisa bantu untuk menampung sampah di sekolah yang sudah kita pilah,” jelas Arninta. Saat ini pun Nutrifood memiliki program Nutrihub yang terdiri dari berbagai komunitas peduli lingkungan di berbagai kota. Apabila sekolah ingin berkolaborasi atau mencari komunitas hijau terdekat dapat menghubungi Nutrihub di kotanya. Penulis: Yosinta Maharani Here

Darurat Iklim, Ini 3 Cara Menumbuhkan Green Behaviour di Sekolah Read More »

program siap kurikulum merdeka

Adaro: Siap Kurikulum Merdeka di Murung Raya

Kelas kolaborasi pekan Temu Pendidik Nusantara X menghadirkan Purwati, Community Development Staff PT Maruwai Coal (Adaro). Melalui kelas berjudul “Menumbuhkan Guru Penggerak Perubahan di Murung Raya”, Purwati menceritakan dukungan Adaro  terhadap guru. Salah satunya melalui program Siap Kurikulum Merdeka. Dukung Guru Penggerak untuk Belajar Di tahun 2023, Adaro menjalankan 5 program untuk bidang pendidikan dari tingkat TK sampai perguruan tinggi, yaitu Adaro PAUD berkarakter, Adaro Guru Berkualitas, Adaro Bangun Ilmu, Indonesia Bright Future Leaders (IBFL), dan Adaro Vokasi Mandiri. Selain itu, Adaro bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Murung Raya dan Kampus Pemimpin Merdeka menjalin kerja sama dalam menyukseskan program Siap Kurikulum Merdeka. Program ini memberikan kesempatan bagi guru-guru di Murung Raya untuk mempelajari lebih dalam mengenai Kurikulum Merdeka dan implementasinya. “Perubahan Kurikulum di Indonesia, yakni dari Kurikulum 2013 menuju Kurikulum Merdeka memerlukan penyesuaian. Yang membutuhkan adaptasi tidak hanya murid, tetapi juga guru,” jelas Purwati. “Peningkatan kapasitas guru dilakukan melalui implementasi kurikulum sekolah dimulai dari asesmen sekolah pada tahun 2022. Awal 2023 diadakan pelatihan dan simulasi Guru Penggerak dengan peserta guru dari 16 desa binaan untuk pendampingan siap kurikulum,” sambungnya. Berbagai program bidang pendidikan tersebut sejalan dengan pilar Adaro Nyalakan Ilmu. Program tersebut terinspirasi dari filsafat pendidikan Suku Dayak yaitu Pintar Tuntang Harati yang artinya Pintar, Cerdas, Berbudi, dan Sigap/Cepat Tanggap (Berkarakter). Selain sesuai dengan pilar Adaro, program tersebut juga sesuai dengan tantangan yang Murung Raya hadapi di bidang pendidikan. Siap Kurikulum Merdeka Bantu Atasi Kesulitan IKM Kelas ini juga menghadirkan salah satu guru yang berkesempatan mengikuti program Siap Kurikulum Merdeka, yaitu Yulia Pitri. Dia merupakan guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Murung.  “Mengikuti pelatihan adalah hal yang luar biasa bagi saya, dari hal yang tidak saya ketahui menjadi banyak yang saya tahu,” kata Yulia. Baginya, seseorang perlu bersahabat dengan perubahan. Segala kebingungannya terhadap Kurikulum Merdeka terjawab saat ia berkesempatan mengikuti program Siap Kurikulum Merdeka. Pelajaran berharga yang dia dapatkan dari Kurikulum Merdeka adalah bagaimana memanusiakan hubungan dengan murid karena guru perlu mencari tahu apa yang menjadi kebutuhan murid, bagaimana cara mereka belajar, dan sejauh mana kemampuan mereka. Pemahaman yang baik tersebut dapat menjadi cahaya sekaligus penuntun bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran yang bermakna dan berpihak pada murid. Di akhir, ia juga tidak lupa memberikan refleksi dirinya, “Bergerak untuk berubah, mulai dari dirimu sendiri, lingkup terkecil, bersahabatlah dengan perubahan, yakinlah semua menjadi mudah.”   Penulis: Monica Rini Widiastuti Editor: Yosinta Maharani Here   

Adaro: Siap Kurikulum Merdeka di Murung Raya Read More »

Buku bacaan berkualitas untuk anak

ProVisi: 3 Ciri Buku Bacaan Anak Berkualitas

Isu mengenai literasi begitu menarik untuk diperbincangkan. Akses buku yang tidak merata, jarak perpustakaan yang jauh dan berada di pusat kota, hingga rendahnya kecocokan buku dengan kebutuhan pembaca menjadi beberapa penyebab rendahnya tingkat gemar membaca di daerah-daerah terpencil. “Permasalahan yang ada saat ini, asesmen 2021 menunjukkan Indonesia masih mengalami darurat literasi. 1 dari 2 peserta didik belum mencapai kompetensi minimum literasi,” tutur Chatarina Trihastuti, Direktur ProVisi pada kelas kolaborasi TPN X pada Rabu  (11/10) lalu. Literasi merupakan salah satu pilar utama ProVisi. Bermitra dengan berbagai pemangku kepentingan, ProVisi hadir sebagai kolaborator Kemendikbudristek untuk membekali keahlian teknis dan rekomendasi dalam meningkatkan kualitas dan akses buku guna menumbuhkan kebiasaan membaca di kalangan anak-anak di Indonesia. Kontribusi ProVisi dalam 3 pilar program, yakni:     Seleksi dan Penjenjangan Buku     Pencetakan dan Pendistribusian Buku     Pelatihan Pada kelas bertajuk Buku Bacaan Bermutu untuk Anak-Anak Indonesia ini, Rina, sapaan akrab Chatarina, berbagi informasi mengenai buku bacaan berkualitas, rekomendasi untuk mengakses buku, hingga informasi pelatihan bagi guru, orang tua, maupun berbagai pihak yang tertarik dengan isu literasi. Dia menyampaikan pentingnya peran buku berkualitas yang dapat mempengaruhi sistem perbukuan. Ia menyatakan bahwa buku dapat menumbuhkan minat baca pada anak. “Tidak ada anak-anak yang tidak suka membaca buku, yang terjadi adalah anak-anak yang belum menemukan buku bacaan yang tepat,” ungkapnya. Ciri Buku Bacaan Anak Berkualitas Beberapa ciri buku berkualitas disampaikan Rina berdasarkan hasil focus group discussion bersama anak jenjang PAUD dan SD.     Buku yang anak-anak ingin baca Buku yang benar-benar ingin dibaca anak dan bukan yang diinginkan oleh orang dewasa adalah buku yang berkualitas. Anak-anak umumnya memilih buku karena warnanya yang menarik, ilustrasi atau karakter dalam buku, maupun cerita yang dekat dengan pengalaman anak.     Tidak terbatas pada genre tertentu Buku yang berkualitas terdiri dari berbagai macam genre, dapat memfasilitasi kebutuhan anak, serta memenuhi berbagai peran sebagai jendela, pintu geser, dan cermin. “Peran penting buku diperkuat dengan pendapat dari Rudine Sims Bishop, yaitu buku sebagai jendela yaitu anak melihat pengalaman baru, pintu geser maksudnya anak dapat mengeksplorasi dunia baru, dan cermin yaitu anak dapat merefleksikan pengalaman hidupnya,” terang Rina.        Sesuai jenjang baca Buku yang berkualitas tersedia bagi semua jenjang baca. Penyediaan buku berjenjang sangat penting, karena kebutuhan dan kemampuan setiap anak yang beragam. “Anak memiliki kemampuan membaca berbeda meskipun berada di jenjang kelas yang sama,” ujar Rina.   Guru: Punya Peran Penting untuk Buku Bacaan Anak Berkualitas Selain kesadaran mengenai peran penting buku berkualitas, pelatihan bagi guru juga sangat penting dan perlu penyorotan. Rina menyampaikan hasil riset mengenai dampak pelatihan yang disertai dengan buku bacaan yang berkualitas. “Pelatihan dengan disertai buku bacaan menaikkan nilai literasi siswa sebanyak 8% pada kemampuan membaca dan 9% pada kemampuan mendengar,” ungkap Rina. Saat ini terdapat banyak platform yang menyediakan akses buku-buku berkualitas seperti SIBI, Budi, Pibo, Literacy Cloud, Let’s Read, Buku Aku, dan Sekolah Enuma. “Sediakan buku bacaan bermutu untuk anak maka akan menumbuhkan ekosistem perbukuan, minat baca tumbuh, kemampuan literasi tumbuh beriringan. Mari kita sebarkan kegembiraan membaca di mana saja dan kapan saja,” tutup Rina. Penulis: Monica Rini Widiastuti Editor: Yosinta Maharani Here    

ProVisi: 3 Ciri Buku Bacaan Anak Berkualitas Read More »

Wardah Inspiring Teacher

Berdampak pada Anak Indonesia dengan Menghargai Guru

PT Paragon Technology and Innovation (ParagonCorp) mengisi satu dari sembilan kelas kolaborasi pada rangkaian pekan Temu Pendidik Nusantara X (TPN X) pada Rabu (11/10). Sesuai namanya, kelas kolaborasi mempertemukan perusahaan atau lembaga donor dengan pendidik agar bisa terjalin kolaborasi pendidikan antara mereka. Hadir dengan topik kelas “Creating Sustainable Goodness for The Greater Good”, Nelsa Dwi Wahyuni, Senior CSR Officer ParagonCorp, menjelaskan, perusahaannya itu fokus pada empat pilar CSR, yakni pendidikan, pemberdayaan perempuan, kesehatan, dan lingkungan.  “Porsi yang paling besar adalah pendidikan karena pendidikan adalah kunci dari segala aspek kehidupan kita. Oleh karena itu kami menggelar Wardah Inspiring Teacher sejak 2017,” ungkap Nelsa. Wardah Inspiring Teacher (WIT) merupakan program pelatihan untuk guru sebagai bentuk apresiasi dari ParagonCorp. Selama pelatihan, guru akan didampingi oleh pelatih dan alumni WIT dari tahun sebelumnya. Hingga saat ini sudah ada 10.000 lebih alumni WIT yang masih terus aktif berbagi praktik baik dalam berbagai kesempatan termasuk di TPN. “Kami juga mengajak masyarakat luas untuk merekomendasikan guru inspiratif di sekitarnya untuk mengikuti program ini,” kata Nelsa. Tahun ini, pendaftar WIT 2023 mencapai 10.000 guru. Dengan tingginya antusiasme pendidik untuk belajar, ParagonCorp berkomitmen untuk terus memberikan sumbangsih untuk pendidikan Indonesia. “Untuk Bapak/Ibu guru silakan mendaftar berbagai program kolaborasi kami, silakan, bisa jadi peserta berbagai program kami atau jika sudah ada program sendiri dan ingin mengajukan sponsorship, kami juga sangat terbuka,” ucap Nelsa. Alumnus Wardah Inspiring Teahcer: Karier Protean Melesat Anggi Rizka Pustika, salah seorang alumnus WIT 2019, hadir di sesi kelas ini. Dia mengatakan, dampak pelatihan WIT berbeda dengan pelatihan guru lainnya. Pada tahun 2019, dia menjalani pelatihan selama hampir setahun sehingga pelatihan yang diterima sangat mendalam. Hal tersebut membuka banyak kesempatan baru bagi pengembangan kariernya sebagai seorang guru. “Dari situ jadi membuka hal baru untuk saya. Berdampak untuk murid maupun teman guru yang lain. Saya jadi diundang jadi pelatih ke berbagai forum untuk menceritakan bagaimana membuat media pembelajaran tersebut,” terang Anggi. Selain itu, setelah menjadi alumnus, dia bisa menjadi pendamping bahkan pelatih untuk WIT angkatan setelahnya. “Karena setelah jadi alumni, saya dapat kesempatan untuk terus belajar dengan menjadi teman belajar, guru pelatih di WIT angkatan selanjutnya,” tutup Anggi. Simak Festival Pemeran Karya Projek Profil Wardah Inspiring Teacher di Palembang, Bogor, Batu, dan Makassar. Penulis: Sarmina dan Yosinta Maharani Here Editor: Yosinta Maharani Here

Berdampak pada Anak Indonesia dengan Menghargai Guru Read More »