Mengatur keuangan untuk guru

Ahli Keuangan: Hanya 10% Guru Merasa Cukup dengan Gajinya

Guru Belajar Foundation berkolaborasi dengan SMBC Indonesia menggelar webinar pelatihan literasi keuangan bertajuk “Menjadi Guru Sejahtera Kini dan Nanti” yang digelar secara daring pada Senin (23/09). Kegiatan ini digelar merespon tingginya jumlah pendidik yang terjerat pinjaman online (pinjol) ilegal. Menurut survey dari IDEAS pada bulan Mei 2024 yang dipaparkan oleh Dian Savitri, perencana keuangan dan expert daya.id SMBC Indonesia, narasumber webinar, menyebutkan, hanya sekitar 10% guru merasa pendapatannya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ditambah posisi menjadi sandwich generation, dimana harus membiayai orangtua dan anak, menambah beban berat finansial guru yang saat ini mayoritas berasal dari generasi milenial. “Oleh karena itu, bapak dan ibu guru pun perlu untuk melek keuangan, paling tidak menguasai dan menjalankan perencanaan keuangan agar tidak terjebak hutang bahkan sampai hutang ke pinjol,” kata Dian. Baca juga: Guru Belajar Foundation Luncurkan Program Cerdas Finansial Dian menyoroti pentingnya guru mengatur cashflow dengan memperhatikan penggunaan pendapatan bulanan, pendapatan per tiga bulanan seperti sertifikasi, dan pendapatan tahunan seperti THR. Pendapatan bulanan bisa digunakan untuk pengeluaran rutin yang sudah dianggarkan, termasuk cicilan bila ada. Lalu untuk pendapatan lainnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sekunder hingga investasi hari tua. “Cicilan maksimal 30% dari pendapatan agar cashflow aman. Kalau gaji masih UMR, diusahakan sekali ya agar tidak punya cicilan, lebih baik tabung dan kalau sudah terkumpul baru digunakan untuk membeli yang dibutuhkan,” jelas Dian mengingatkan. Hindari Pinjaman Ilegal Cashflow negatif atau lebih tingginya pengeluaran dibanding pendapatan, dapat mendorong guru untuk mencukupinya dengan hutan. Namun, perlu diperhatikan pengelolaannya, salah satunya adalah dengan menghindar dari pinjaman ilegal. “Ciri-cirinya itu pasti tidak terdaftar di OJK, alamat dan nomor pengaduan tidak jelas, bunganya sangat tinggi, penawarannya langsung ke WhatsApp atau SMS pribadi, dan kadang calon korban diminta transfer dulu untuk biaya administrasi. Tolong hati-hati jangan sampai tergiur,” terang Dian. “Kemudian pastikan juga kalau memang ada uang yang untuk membayar, masa gunanya melebihi tenor hutang, tidak berhutang untuk gaya hidup. Pokoknya benar-benar dikontrol. Misal hutang untuk menutupi hutang lain, itu sudah tidak sehat ya,” lanjutnya. Terakhir, Dian juga menyampaikan agar sebaiknya guru juga memiliki dana darurat, yakni dana yang siap digunakan kapan saja saat kondisi darurat dan tidak masuk dalam anggaran rutin. Dana darurat bisa dikumpulkan dengan menyisihkan 10%-20% dari pendapatan bulanan. (YOSI)

Ahli Keuangan: Hanya 10% Guru Merasa Cukup dengan Gajinya Read More »

media ajar literasi finansial

Guru Belajar Foundation Luncurkan Program Cerdas Finansial

Guru Belajar Foundation (GBF) berkolaborasi dengan SMBC Indonesia meluncurkan program beasiswa belajar “Guru Kreatif Cerdas Finansial” (GKCF) pada Senin (19/08) secara daring. GKCF bertujuan meningkatkan dua kompetensi guru yakni kompetensi membuat media ajar dan kompetensi literasi finansial. Guru Kreatif Membuat Media Ajar Sekaligus Cerdas Finansial Peningkatan kompetensi ini diharapkan dapat mendukung guru menghadapi tantangan yang sering mereka temui di dalam kelas dan di luar kelas. Di dalam kelas, guru seringkali terjebak membuat media ajar yang terlihat keren tapi ternyata tidak berdampak pada murid. Baca juga: Ahli Keuangan: Hanya 10% Guru Merasa Cukup dengan Gajinya Di luar kelas, banyak guru terjerat pinjaman online (pinjol) karena rendahnya pendapatan, manajemen keuangan yang kurang efisien, serta pengetahuan yang minim tentang jasa keuangan yang ilegal.  “Saya pun termasuk guru yang pernah miskonsepsi membuat media ajar. Dulu saya sering membuat media ajar yang keren dan saya pikir inovatif. Nyatanya, saya membuat media ajar yang tidak dibutuhkan murid, jadi sebenarnya tidak berdampak pada pembelajaran murid,” ungkap Rizqy Rahmat Hani, ketua Kampus Pemimpin Merdeka, unit pelaksana program GKCF. Rizqy menuturkan, peserta program akan belajar selama empat bulan agar dapat merancang media ajar yang bermakna, yakni dengan konsep design thinking. Peserta juga akan didampingi bagaimana memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu membuat media ajar. “Media ajar ini diharapkan tidak hanya bermanfaat untuk pembelajaran di kelas guru itu sendiri tapi juga guru lain. Bagaimana caranya? Ini yang namanya guru dengan karier protean. Guru bisa membuat media ajar bermakna lalu dijual ke guru lain. Banyak guru dan murid lain terdampak, kesejahteraan finansial guru pembuatnya pun membaik,” kata Rizqy. 9324 Guru Mendaftar dan Akan Diseleksi Sejak dibuka pendaftarannya pada 30 Juli lalu, 9324 guru telah mendaftar program GKCF. Nantinya peserta akan diseleksi komitmennya. Pada tahap satu, 1000 peserta berhak mendapat pelatihan membuat media ajar dan literasi finansial. Lalu 300 guru dipilih untuk lanjut mendapatkan pendampingan merancang prototipe media ajar. Pada akhir program, akan ada perayaan belajar dengan format festival, di mana 175 peserta terpilih akan berbagi praktik baik mengenai media ajar yang berhasil dibuatnya. Melalui sesi ini, diharapkan ilmu membuat media ajar tidak berhenti pada peserta GKCF saja tapi juga guru secara luas. Game-Based Learning Tingkatkan Literasi Keuangan Ala Guru Pekalongan Nunuk Riza Puji, ketua Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) sekaligus guru penggerak di Kabupaten Pekalongan yang hadir sebagai salah satu narasumber peluncuran GKCF membagikan pengalamannya merancang media ajar seru terkait literasi keuangan. Dia menjelaskan, media ajar tersebut dibuat dengan memahami kultur kehidupan masyarakat Indonesia yang bergotong royong terkait keuangan. Misalnya, sering ada sumbangan untuk kegiatan agama, arisan, tetangga menikah, yang seringkali sulit diukur jumlah pengeluaran perbulannya. “Jadi saya dan teman-teman di komunitas merancang game yang cukup kompleks tapi seru. Ceritanya ada dua keluarga ayam yang punya tujuan finansial, lalu ditantang mengatur pendapatannya agar tujuannya bisa tercapai,” jelas Nunuk. “Di tengah perjalanan menuju goalsnya akan ada tantangan seperti yang kita hadapi sehari-hari, misalnya mobil perlu diservis. Kemudian tantangan atas godaan pengeluaran yang lain yang sifatnya bukan kebutuhan tapi keinginan,” sambungnya. Dari refleksi guru maupun murid yang sudah pernah memainkan game ini, Nunuk percaya bahwa kompetensi literasi finansial bisa dicapai dengan banyak cara, termasuk dengan permainan seperti ini. Dia berharap program GKCF melahirkan banyak guru kreatif dan inovatif dalam membuat media ajar yang juga bisa berdampak untuk para murid dan dirinya sendiri. (YOSI)

Guru Belajar Foundation Luncurkan Program Cerdas Finansial Read More »

Relawan Peace Corps bersama beberapa peserta festival kurikulum merdeka

22 Guru dan Relawan dari Amerika Serikat Berbagi Praktik Baik

Kampus Pemimpin Merdeka (KPM) berkolaborasi dengan Peace Corps (badan independen pemerintah Amerika Serikat yang mengirimkan relawan untuk bertugas di berbagai negara), menggelar Festival Kurikulum Merdeka (FKM) di Hotel Yello Surabaya pada Senin (26/08). Kegiatan ini merupakan perayaan belajar bagi 22 guru bahasa Inggris dan relawan Peace Corps yang selama dua bulan ini mendapat pendampingan dari KPM. Secara daring, guru asal Jawa Timur, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur itu mendapat pelatihan implementasi Kurikulum Merdeka. “FKM ini bertujuan merayakan proses belajar peserta, merayakannya dengan berbagi praktik baik mengajar mereka. Jadi apa yang mereka pelajari bersama kami dan sudah mereka coba terapkan bisa juga menjadi inspirasi untuk guru-guru lain di luar sana,” terang Rizqy Rahmat Hani, ketua KPM. Meskipun diadakan secara luring di Surabaya, peserta FKM berasal dari berbagai daerah. Pasalnya, KPM dan Peace Corps menyediakan live streaming yang pesertanya stabil di angka 250.  “Terima kasih untuk Peace Corps yang mau terlibat untuk peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Senang sekali mendengar praktik baik dari guru dan relawan pada hari ini. Pembelajaran bahasa Inggris yang tidak hanya menyenangkan tapi juga bermakna,” kata Rizqy Baca juga: Asesmen Kompetensi Guru Belajar: Guru Butuh Pelatihan yang Tepat Ananda Roman, Program Manager Peace Corps Indonesia menjelaskan, projeknya ini ingin mendukung prioritas pendidikan pemerintah Indonesia saat ini. Oleh karenanya, para guru diberi pendampingan untuk menerapkan student center dan P5, yang terdapat pada Kurikulum Merdeka. “Kami berharap program ini dapat berdampak untuk guru dan murid sampai di daerah terpencil,” tuturnya. “Terkadang guru kesulitan menerjemahkan konsep yang ada di Kurikulum Merdeka, praktisnya yang kontekstual seperti apa, yang cocok untuk murid-muridnya, oleh karena itu program ini ada,” lanjutnya. Total terdapat sebelas praktik baik yang dibagikan, ada yang bercerita pengalamannya mengajar dengan permainan, media pembelajaran, hingga bermacam-macam teknologi di internet. Salah satunya praktik baik dari Sefti guru MTs di Kediri bersama relawan Peace Corps bersama Sarah, yang membagikan media pembelajaran kartu bernama The Rising Cards. Baca juga: Festival Siap Kurikulum Merdeka: Projek Profil yang Tepat The Rising Cards merupakan kartu yang dapat membantu murid memeriksa kemajuan belajar dirinya sendiri. Setiap pertemuan, murid mendapat pertanyaan dan yang berhasil menjawab akan mendapat bintang untuk ditempel pada kartunya. Murid yang sudah dapat sepuluh bintang tidak bisa menjawab lagi melainkan memberi pertanyaan ke teman lainnya. Cara ini diharapkan menimbulkan perasaan ingin membantu antar murid. (YOSI)

22 Guru dan Relawan dari Amerika Serikat Berbagi Praktik Baik Read More »

asesmen berbasis kinerja

Festival Pesantren Merdeka: Praktik Asesmen Berbasis Kinerja

Kampus Pemimpin Merdeka menggelar Festival Pesantren Merdeka pada Senin (29/01) secara daring.  Tujuh guru Yayasan Pondok Pesantren Nurul Chotib Al Qodiri Jember berbagi praktik baik pada gelaran tersebut. Salah satu diantaranya ada Farij Qusayyi yang bercerita pengalamannya menggunakan asesmen berbasis kinerja saat mengajar matematika. Dia merupakan guru matematika jenjang SMP. Sesuai dengan namanya, asesmen berbasis kinerja memungkinkan murid unjuk kompetensi berdasar kinerja mereka. Dengan demikian, guru akan lebih mudah menilai sejauh mana murid memahami suatu konsep. Farij memutuskan untuk menggunakan asesmen ini agar tidak hanya dapat menilai hasil belajar murid melainkan juga prosesnya. Oleh karenanya, asesmen ini juga menghindari kemungkinan murid mencontek pekerjaan milik temannya. Baca juga: Festival Kurikulum Merdeka: 22 Guru dan Relawan dari AS Berbagi Praktik Baik “Ketika awal saya mendengar tentang asesmen berbasis kinerja, langsung muncul banyak pertanyaan. Kesulitannya adalah masih sedikit contoh konkret penerapan yang ada di internet. Oleh karenanya, saya saat ini berbagi di sini, agar praktik saya bisa jadi salah satu referensi. Bapak/Ibu guru tidak perlu kesulitan seperti saya dulu di awal-awal,” kata Farij. Asesmen Berbasis Kinerja Materi Bilangan Farij pertama kali mencoba asesmen berbasis kinerja untuk kelas 8 pada materi pola bilangan. Dia mengajak murid untuk membuat booklet pola bilangan. Booklet tersebut setidaknya harus terdapat judul, ilustrasi pola bilangan, keterangan angka, dan penjelasan konsep.  “Untuk melakukan visualisasi, murid bebas menggunakan bahan yang ada di sekitarnya. Ada yang  menggunakan kardus bekas, bungkus sabun cair, dedaunan, sapu lidi, sedotan, dan banyak lainnya,” terang Farij. Sebelum murid mulai membuat booklet, Farij menjelaskan kriteria penilaiannya, yakni kreativitas, kualitas ilustrasi, konsep, dan presentasi. Setelah membuat booklet dan melakukan presentasi, murid melakukan refleksi. Baca juga: Festival Kurikulum Merdeka: Praktik Baik Guru TK hingga SMK “Murid bercerita, yang paling menantang adalah presentasinya karena malu. Di sini saya jadi tahu apa yang kurang dari murid dan bagaimana saya membantu kedepannya agar kompetensinya terus naik,” kata Farij. Murid juga mengungkapkan kesenangannya belajar matematika yang tidak monoton. Apabila biasanya mereka hanya mengerjakan soal-soal, dengan asesmen berbasis kinerja mereka menjalani aktivitas lain seperti menggunting dan menempel. “Mereka senang karena ditantang untuk kreatif. Tidak hanya memikirkan angka-angkanya. Matematika jadi tidak menyeramkan untuk murid. Bagi saya, saya jadi tahu sejauh mana mereka paham konsep pola bilangan,” tutup Farij. (YOSI)

Festival Pesantren Merdeka: Praktik Asesmen Berbasis Kinerja Read More »

Pameran karya P5 murid Lembang

Murid SMP di Lembang Buat Karya untuk Atasi Teman Putus Sekolah

Dalam rangkaian kampanye bulan pendidikan #FilantropiuntukIndonesia bersama Perhimpunan Filantropi Indonesia, Guru Belajar Foundation mengadakan talkshow bertajuk “Dukung Anak Mengukur Diri, Berkarya, dan Berkontribusi” pada Jumat (17/05) secara daring. Dalam kesempatan tersebut hadir Marsaria Primadonna, ketua Kampus Guru Cikal, dan Dedeh Sarinah, murid dari SMP Prawira Lembang sebagai narasumber. Talkshow ini menekankan bahwa pameran karya penting untuk anak karena menjadi asesmen yang otentik. Pentingnya Murid Punya Karya yang Dipamerkan Anak penting untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi karena akan mempengaruhi bagaimana mereka siap terjun ke masyarakat. Pima, sapaan akrab Marsaria, menyarankan agar murid belajar dengan berkarya untuk meningkatkan kompetensi ini. Baca juga: Teacher Talent: Solusi untuk Pencarian Guru Abad ke-21 Di era Kurikulum Merdeka, belajar dengan berkarya difasilitasi melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). “Ada pepatah kan ya, kalau di sekolah kita belajar dulu baru ujian, kalau di dunia nyata kita ujian dulu baru belajar. Kenapa tidak sejak sekolah saja, anak terbiasa terjun ke masyarakat untuk belajar?” kata Pima. Melalui proses membuat karya, murid akan belajar melihat masalah, mengelola banyaknya informasi, dan merancang solusi yang bisa mengatasinya. Anak juga belajar untuk gagal dan belajar dari kesalahannya tersebut. Proses ini sangat mengasah kemampuan literasi dan numerasi. Setelah membuat karya juga perlu bergabung dengan pameran karya. Menurut Pima, pameran karya adalah cara otentik untuk anak bisa mengetahui kemampuan dirinya. Pasalnya, dengan pameran karya, anak akan menerima umpan balik bahkan dari orang yang sebelumnya belum pernah terlibat sama sekali dalam proses pembuatan karya. Baca juga: Murid Ramai di Kelas, Ini 5 Langkah Buat Kesepakatan Kelas Agar Disiplin “Maksudnya otentik benar-benar dari orang-orang di luar kelas, mereka akan kasih umpan baliknya, ibaratnya mereka ini punya fresh eye jadi umpan baliknya segar. Ini akan jadi pengalaman berharga untuk anak untuk bisa mengukur kompetensi dirinya,” ujar Pima. Namun, Pima mengingatkan untuk jangan sampai terjebak miskonsepsi pameran karya. Saat ini setiap sekolah biasanya mengadakan pameran karya di akhir semester tapi esensinya tidak sampai karena hanya berlomba terlihat keren dan mengedepankan kemewahan. Pameran karya yang sesuai esensi kembali pada tujuan yakni mengukur kompetensi diri anak. Sehingga di pameran karya yang penting adalah anak punya ruang untuk berefleksi. Mereka berlatih mengkomunikasikan proses karyanya dan menerima umpan balik.   Dedeh Sarinah, Teman yang Putus Sekolah jadi Topik Karyanya Contoh murid yang memiliki karya bermakna adalah Dedeh Sarinah, murid SMP Prawira Lembang. Dia dan kedua temannya membuat projek “Ayo Sekolah”. Projek ini berlatar belakang keresahannya melihat teman-temannya putus sekolah. SMP Prawira Lembang jauh dari wilayah perkotaan. Sebagian besar murid harus jalan kaki menanjak melalui hutan bambu jika ingin sampai ke sekolah. Dan dengan berbagai alasan lain, banyak yang tidak bersemangat sekolah. Beberapa mengundurkan diri dan memutuskan menikah muda. Baik orangtua maupun anak di daerah tersebut belum memprioritaskan sekolah. “Dari hasil riset kami bertiga, putus sekolah akan memiliki dampak buruk untuk teman-teman saya, oleh karenanya, saya dan teman-teman memutuskan masalah ini jadi topik projek profil,” ungkap Dedeh. Dedeh mengaku menghadapi tantangan saat memikirkan solusinya. Bagaimana agar cara yang dilakukan bisa mengena ke teman-teman dan orangtua dan berdampak panjang. Dia juga khawatir jika komunikasinya kurang diterima. “Akhirnya kami memutuskan untuk membuat video-video sederhana yang menunjukkan menyenangkan dan pentingnya sekolah, lalu kami distribusikan ke teman-teman. Lalu saat kami melihat ada teman yang mulai tidak semangat sekolah, mulai membolos, kami yang beri semangat,” kata Dedeh. Karya Dedeh dan kedua temannya ini juga sudah dipamerkan di pameran karya puncak Temu Pendidik Nusantara X, yang dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Dedeh mengatakan senang dapat bergabung karena dirinya belajar mempresentasikan ide tersebut dan menerima beragam umpan balik. Selain itu juga berkenalan dengan murid dari sekolah lain. (YOSI)

Murid SMP di Lembang Buat Karya untuk Atasi Teman Putus Sekolah Read More »