Pelatihan Literasi Numerasi oleh Guru Belajar Foundation pada program KREASI Pesisir Barat

Literasi Numerasi Dikuatkan dari Akar – 25 Guru Pesisir Barat Siap Menjadi Motor Pembelajaran

Pesisir Barat, 18 Maret 2025. Rendahnya capaian literasi dan numerasi masih menjadi pekerjaan rumah di banyak sekolah dasar di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Menjawab kebutuhan tersebut, sebanyak 25 guru dari Kabupaten Pesisir Barat mengikuti pelatihan sebagai Master Teacher dalam program KREASI, untuk memperkuat peran mereka sebagai pemantik perubahan di ruang-ruang belajar. Program KREASI merupakan inisiatif bersama yang didanai oleh Global Partnership for Education (GPE) dan dilaksanakan oleh konsorsium Mitra Pendidikan Indonesia, yang terdiri dari Save the Children, Guru Belajar Foundation, serta didukung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, dan Bappenas. Menyebarkan Praktik Literasi & Numerasi melalui KKG Pelatihan ini dirancang bukan hanya untuk meningkatkan kompetensi individu, tetapi untuk memperkuat ekosistem belajar antar guru. Mereka yang dilatih akan menjadi Master Teacher fasilitator pembelajaran bagi rekan-rekannya di Kelompok Kerja Guru (KKG) di kecamatan masing-masing. Dengan pendekatan pengembangan profesional berkelanjutan, para guru tidak hanya menerima modul, tetapi juga strategi inovatif untuk memperkuat keterampilan membaca, menulis, dan berhitung secara efektif dan inklusif. Salah satu materi utama dalam pelatihan ini adalah strategi pembelajaran 5M, Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, Memberdayakan Konteks. Memanusiakan Hubungan merupakan praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi pada anak berdasarkan relasi positif yang saling memahami antara guru, murid dan orangtua. Salah satu contoh konkrit penerapannya adalah penggunaan hasil asesmen awal pada murid dalam merancang pembelajaran. Memahami Konsep berarti pembelajaran yang memandu murid bukan sekadar menguasai konten tapi menguasai pemahaman mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks. Sedangkan Membangun Keberlanjutan adalah pembelajaran yang memandu murid mengalami rute pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui umpan balik dan berbagi praktik baik. Umpan balik dan refleksi adalah praktik yang erat dengan ini. Berikutnya Memilih Tantangan, merupakan praktik pembelajaran yang memandu murid menguasai keahlian melalui proses yang berjenjang dengan pilihan tantangan yang bermakna. Terakhir Memberdayakan Konteks mengajak guru untuk mempraktikkan pembelajaran yang memandu murid melibatkan sumber daya dan kesempatan di komunitas sebagai sumber belajar sekaligus kesempatan berkontribusi terhadap perubahan. Oktavia Wuri Pratiwi, District Manager KREASI dari Guru Belajar Foundation mengungkapkan “Kami ingin guru tidak hanya jadi pelaksana kurikulum, tapi pemimpin pembelajaran. Dengan 5M, guru bisa lebih percaya diri menghadapi dinamika kelas, termasuk untuk meningkatkan literasi dan numerasi. Strategi ini menekankan pentingnya interaksi yang setara antara guru dan murid, serta mendorong pembelajaran yang kontekstual dan membangkitkan rasa ingin tahu murid.” Dampak yang Diperluas Lewat Mentoring Pelatihan ini bukan tujuan akhir, melainkan awal dari rangkaian mentoring dan penyebaran praktik baik. Harapannya, kompetensi yang diperoleh tidak berhenti pada 25 peserta, tetapi menjangkau ratusan guru lain melalui kegiatan berbagi di KKG dan sekolah masing-masing. Program KREASI mengusung keyakinan bahwa perubahan pendidikan tidak lahir dari instruksi semata, melainkan dari kolaborasi antar guru yang saling belajar, menguatkan, dan bertumbuh bersama. “Terima kasih kepada seluruh guru yang telah memilih untuk terlibat. Semoga semangat kolaborasi ini terus tumbuh dan menjadi kunci kesuksesan bersama,” ujar Marfi Arindo Yusni, Koordinator Program KREASI Pesisir Barat.

Literasi Numerasi Dikuatkan dari Akar – 25 Guru Pesisir Barat Siap Menjadi Motor Pembelajaran Read More »

peluncuran program KREASI pesisir barat

KREASI – Peningkatan Kualitas Pembelajaran di Pesisir Barat

  Pesisir Barat, 10 Maret 2025. Di tengah tantangan pendidikan dasar di wilayah pesisir, para guru dan kepala sekolah di Kabupaten Pesisir Barat kini mendapatkan ruang baru untuk tumbuh dan saling belajar. Melalui program KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) upaya memperkuat kualitas pembelajaran kontekstual dan berpihak pada murid  digerakkan secara kolektif. Program KREASI merupakan inisiatif bersama yang didanai oleh Global Partnership for Education (GPE) dan dilaksanakan oleh konsorsium Mitra Pendidikan Indonesia, yang terdiri dari Save the Children, Guru Belajar Foundation, serta didukung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, dan Bappenas. Peluncuran program ini menjadi langkah strategis, karena tantangan yang dihadapi tidak hanya terkait infrastruktur dan aksesibilitas, tetapi juga bagaimana guru dapat memahami dan merespons kebutuhan belajar murid secara tepat. Berdasar rapor pendidikan Pesisir Barat 2024 Maman Basyaiban, Ketua Pelaksana Guru Belajar Foundation menyatakan “Dari hasil pengukuran kompetensi literasi dan numerasi anak di jenjang dasar menunjukkan perlu perhatian khusus, hal ini tidak cukup sekadar menggunakan sosialisasi, maupun seminar.” Ia pun menambahkan “Oleh sebab itu melalui program KREASI di Kabupaten Pesisir Barat, kami memastikan bahwa pendidik tidak hanya menerima pelatihan, tetapi juga diberdayakan untuk berkolaborasi, berbagi praktik baik, dan bersama-sama menciptakan solusi yang kontekstual bagi tantangan pendidikan di daerah. Guru Belajar Foundation percaya bahwa guru yang terus belajar dan berdaya dapat menjadi pemimpin kolektif perubahan.” Empat Arah Dampak yang Dituju KREASI Program KREASI dirancang untuk mendorong transformasi pada empat ranah utama. Pertama, meningkatkan kompetensi guru dan kepala sekolah terkait penggunaan kurikulum dan asesmen secara tepat dan sesuai kebutuhan murid. Penyesuaian kurikulum bukan sekadar soal mengikuti regulasi, tetapi soal memahami apa dan bagaimana murid belajar. Dalam konteks ini, guru dan kepala sekolah perlu memahami bagaimana menerjemahkan kurikulum menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Kedua, peningkatan kebijakan dan praktik pengajaran keterampilan dasar yang setara. Karena Keterampilan dasar seperti literasi dan numerasi adalah fondasi utama bagi murid untuk belajar sepanjang hayat. Ketiga, peningkatan kebijakan dan praktik kepemimpinan yang adil dan efektif dalam pengajaran dan pembelajaran. Kepala sekolah dan pengawas tidak hanya bertugas mengatur administrasi, tetapi menjadi pemimpin pembelajaran (instructional leaders). KREAsii diharapkan dapat mendorong budaya refleksi dan kolaborasi di antara guru. Keempat, peningkatan kebijakan dan praktik perlindungan anak yang setara serta pencegahan berbagai risiko. “Hal ini penting, bahkan rapor Pendidikan kita menunjukkan bahwa ada sekolah-sekolah yang meskipun memiliki fasilitas terbatas, tetap mampu menunjukkan hasil literasi dan numerasi murid yang tinggi karena lingkungan yang aman dan pengelolaan kelas yang baik,” ujar Maman. Man Magilan, KREASI – Regional Manager Save the Children wilayah Sumatera, menambahkan “melalui program ini, pelatihan dan peningkatan keterampilan pedagogik akan diupayakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan berkualitas, sehingga mampu meningkatkan hasil belajar murid serta adaptasi pendidikan terhadap perkembangan zaman.” Harapannya, program ini dapat membangun ekosistem belajar yang berkelanjutan, di mana setiap sekolah mitra dari program KREASI menjadi agen perubahan dalam peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Tak hanya itu, guru dan kepala sekolah dapat saling mendukung satu sama lain, berbagai pengalaman, dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan inklusif.

KREASI – Peningkatan Kualitas Pembelajaran di Pesisir Barat Read More »

Dukung 4500 Guru Belajar, Langkat Raih Penghargaan

Saiful Abdi, kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Langkat mendapat penghargaan “Empowered Education Management” dari Yayasan Guru Belajar (YGB), yang diserahkan saat Puncak  Temu Pendidik Nusantara (TPN) XI di Pos Bloc Jakarta pada Sabtu (2/11). Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Saiful Abdi, yang memilih untuk menjadi penggerak perubahan dalam pendidikan melalui berbagai inisiatif guna menciptakan pembelajaran yang berpihak pada anak di daerahnya. “Terima kasih untuk apresiasinya, terima kasih juga untuk Bapak Pj Bupati, Bapak Faisal Hasrimy, yang mengambil langkah konkret untuk mentransformasi pendidikan di Langkat. Semoga apa yang kita lakukan bersama memajukan kualitas pendidikan di Langkat,” kata Saiful. Saiful Abdi menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan berbagai pihak dalam sektor pendidikan. Disdik Kabupaten Langkat telah aktif berkolaborasi  dengan YGB sejak tahun 2021 pada program Sekolah Merdeka Belajar. Pencapaian tercatat ada 303 pemimpin sekolah/madrasah berbagi praktik baik merdeka belajar. Dia juga menceritakan pergerakan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Langkat yang terlibat aktif dalam berbagai program pengembangan kapasitas guru. Baca juga: 50 Guru Bagikan Inspirasi Media Ajar Literasi Finansial di FESTIFIN “Pencapaian ini adalah hasil dari kerja keras bersama. Dengan kolaborasi yang kuat kami semakin optimis dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan merata di Langkat,” tuturnya. Dalam ajang yang sama, Disdik Kabupaten Langkat juga meraih penghargaan sebagai “Dinas Pendidikan Berdaya” karena telah mendukung 4500 guru lebih untuk belajar di TPN XI di Langkat, terbanyak di antara 49 daerah lainnya. Dia mengatakan akan mendukung keberlanjutan dukungan terhadap penyelenggaraan TPN di Langkat, karena sesuai dengan kebutuhan belajar guru. Selain itu, dia juga menyoroti Cerdas Cermat Guru, asesmen formatif untuk mengetahui level kompetensi guru, yang membantu Disdik Langkat melakukan pemetaan kebutuhan guru. Disdik Langkat adalah Pemda yang Berdaya Maman Basyaiban, ketua TPN, menyampaikan apresiasinya pada semua penerima penghargaan karena telah berkomitmen menjadi pemimpin yang berdaya, yakni pemimpin yang mencari cara untuk mencapai tujuannya; perbaikan kualitas pendidikan di tengah banyaknya tantangan. “Mengapresiasi penerima penghargaan ini karena sadar kalau tantangan di pendidikan itu harus dihadapi bersama dengan kolaborasi. Bapak/Ibu mengambil peran di TPN  daerahnya masing-masing, berarti mau mendengarkan, percaya dan mendukung guru untuk #LanjutBelajar,” kata Maman. Maman menambahkan bahwa penghargaan ini tidak hanya merupakan bentuk pengakuan, tetapi juga menjadi ajakan bagi pemimpin pendidikan lainnya untuk lebih berperan aktif dalam mendukung guru dan membangun ekosistem pendidikan yang inklusif.  Baca juga: Guru Belajar di Tantangan Pendidikan Masa Depan “Harapan kami, semakin banyak pemimpin daerah dan sekolah menjadi penggerak perubahan pendidikan yang positif. Dengan bergandengan tangan, kita dapat membangun masa depan pendidikan yang lebih berpihak pada anak,” ujar Maman. Acara Puncak TPN XI di Pos Bloc Jakarta ini berhasil mempertemukan ribuan pendidik dan pemangku kepentingan pendidikan dari berbagai wilayah Indonesia. Melalui agenda seperti kelas debat, kelas pendidik, dan kelas penggerak, para peserta mendapatkan kesempatan untuk saling berbagi inspirasi, memperdalam pengetahuan, dan mempraktikkan kepemimpinan yang berdaya. (YOSI)

Dukung 4500 Guru Belajar, Langkat Raih Penghargaan Read More »

Guru Belajar di Tantangan Pendidikan Masa Depan

Beragam kebijakan dan pendekatan baru diterapkan dengan tujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan mendorong proses belajar yang lebih adaptif dan inovatif. Sebagai upaya untuk mendorong transformasi menghadapi tantangan pendidikan, Puncak Temu Pendidik Nusantara (TPN) XI menghadirkan talkshow bertajuk “Guru Belajar di Tantangan Pendidikan Masa Depan”, Sabtu (02/11) di Pos Bloc, Jakarta. Juliawati dari SD Negeri 08 Sanggau, Kalimantan Barat, yang hadir sebagai salah satu narasumber menyebutkan bahwa tantangan terbesar saat ini yakni mengintegrasikan teknologi secara efektif dan esensi pembelajaran agar tetap bermakna. “Di tengah keterbatasan di pelosok, saya sebagai guru menghadapi tantangan teknologi, saya mencoba untuk tetap menjaga esensi dari belajar dengan menggabungkan perkembangan teknologi yang ada serta pembelajaran yang bermakna,” ujar peraih Ki Hajar Dewantara Awards itu. Baca juga: Ujian Nasional Diperdebatkan: Seberapa Problematis? Menurutnya, adaptasi murid terhadap teknologi sangat bagus. Namun, hal tersebut tidak dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis serta tingkat emosional. “Ketika misal pembelajaran berbasis projek, kebutuhan riset, tetap memanfaatka teknologi. Tapi ketika refleksi, kolaborasi, biasanya tidak menggunakan teknologi tapi anak-anak berkumpul dalam kelompok kecil,” lanjutnya. Pendidikan adalah Kolaborasi Sedangkan Tya Ariestya, seorang publik figur yang hadir juga sebagai narasumber, menyoroti pentingnya kolaborasi orangtua dan guru dalam pendidikan anak.  “Suasana pembelajaran hari ini yang lebih menyenangkan akan menjadi jalan anak nyaman di sekolah. Materi dengan mudah tersampaikan juga kolaborasi antara guru dan orang tua menjadi kunci kebermaknaan pembelajaran,” jelasnya Pemintah pun mengambil peran penting dalam menjawab tantangan pendidikan masa depan. Hadir Widyaningtya Sistaningrum  yang memaparkan bagaimana posisi pemerintah dalam hal ini. Perwakilan dari BPMP Jakarta ini menggaris bawahi pentingnya kolaborasi dalam dunia pendidikan. Dia memaparkan bagaimana pemerintah, melalui BPMP, memberikan dukungan dengan menjamin mutu pendidikan. Baca juga: Temu Pendidik Nusantara Mendapat Pengakuan Internasional “Langkah yang bisa kami lakukan yakni dengan membaca setiap kebijakan pendidikan  yang ada, mengevalus serta monitoring  untuk meningkatkan dan menjamin mutu pendidikan di tingkat provinsi, termasuk pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan masyarakat,” pungkasnya. Penulis: Siti Fatonah Editor: YOSI

Guru Belajar di Tantangan Pendidikan Masa Depan Read More »

Canva Dukung Guru Siap Merancang Pembelajaran ala Abad ke-21

Dalam era pendidikan abad ke-21, keterampilan berpikir kritis dan kreativitas menjadi semakin penting bagi murid. Menjawab kebutuhan tersebut, Puncak Temu Pendidik Nusantara XI menghadirkan talkshow inspiratif bertajuk “Memberdayakan Kreativitas dan Berpikir Kritis dengan Canva”, yang berlangsung di Pos Bloc, Jakarta Pusat, Sabtu (2/10). Acara ini menghadirkan narasumber berpengalaman seperti Pipit Indrawati, Canva for Education Lead untuk Indonesia dan Asia Tenggara; Jihan Aryani, Country Community Manager Canva Indonesia; Marsaria Primadonna, Ketua Kampus Guru Cikal; serta Syerly Manarata, Guru Duta Canva. Mereka membahas peran Canva sebagai alat pendidikan yang mendorong murid untuk berpikir kritis dan mengekspresikan ide secara visual. Canva Terus Berkomitmen Mendukung Guru Jihan Aryani menekankan komitmen Canva untuk memperluas akses ke alat pendidikan yang memperkaya pengalaman belajar. “Kami percaya bahwa kreativitas adalah keterampilan yang penting, dan kami berkomitmen untuk menawarkan alat yang didukung AI dan perpustakaan template yang luas untuk mendukung guru dalam mendorong kreativitas dan berpikir kritis di kelas,” ujarnya. Baca juga: 30 Guru Berbagi Praktik di Puncak TPN XI Sejak tahun 2022, Canva telah bermitra dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, memungkinkan akses gratis ke Canva untuk Pendidikan bagi guru dan murid melalui Akun belajar.id. Pada tahun 2023, lebih dari 2,3 juta guru dan murid menggunakan Canva dengan Akun belajar.id, menghasilkan lebih dari 45 juta desain. “Kemitraan Canva dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memudahkan guru dalam mengakses platform—mereka dapat langsung masuk dengan Akun belajar.id tanpa langkah verifikasi tambahan. Kami juga senang dapat mendukung para pendidik dengan memberikan pelatihan yang membantu mereka memaksimalkan Canva untuk pengalaman belajar yang lebih menarik di kelas,” kata Pipit. Baru-baru ini, Canva meluncurkan sebuah Pelatihan Mandiri di Platform Merdeka Mengajar berjudul Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dengan Akun belajar.id [Kemitraan dengan Canva untuk Pendidikan]. Pelatihan Mandiri ini dirancang untuk membimbing guru, termasuk mereka yang baru mulai menggunakan Canva, untuk pembelajaran secara mandiri. “Pelatihan Mandiri Canva mencakup video-video pengajaran yang inspiratif dari para Guru Duta Canva. Misalnya, satu video menyoroti pembelajaran berdiferensiasi mata pelajaran matematika menggunakan Canva, untuk topik penyajian data,” tambah Pipit. “Kami berharap melalui Pelatihan Mandiri ini, para guru terinspirasi untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna di kelas menggunakan Canva.” Pada kesempatan yang sama, ketua Kampus Guru Cikal (KGC) mengaku telah lama menggunakan Canva untuk mendukung proses pembelajaran di kelasnya, bahkan sebelum ada kemitraan seperti yang dijelaskan oleh Pipit. Baca juga: Puncak Temu Pendidik Nusantara XI: Otonomi Guru dalam Belajar “Saya sudah lupa bagaimana awalnya berkenalan dengan Canva dan bisa mengakses fitur Canva untuk Pendidikan, yang pasti sudah lama sebelum Canva bekerja sama dengan Kementerian (Pendidikan Dasar dan Menengah) dan hal itu membuat pembelajaran lebih kreatif,” ungkapnya. Canva Teknologi yang Sangat Membantu Guru Menurut Pima, sapaan akrab Marsaria, Canva memudahkan tugasnya sebagai guru. Seperti misalnya saat membuat media pembelajaran, dia sering memanfaatkan Canva untuk membuat desain yang disukai murid. Beberapa buku yang diterbitkan oleh KGC juga memanfaatkan Canva untuk mendesain sampul hingga mengatur tata letak setiap halaman. Dengan demikian, Canva menjadi alat yang sangat membantu bagi para guru, yang sering kali terlibat dalam proses pembuatan dan penerbitan buku. Namun, dia mengingatkan agar guru bisa menggunakan Canva dengan bijak. “Canva adalah teknologi yang sangat membantu kita tapi kita harus menggunakannya dengan bijak. Kita sebagai guru tetap punya peran utama dalam merancang pembelajaran yang bermakna,” pungkasnya. Baca juga: Guru juga Butuh Umpan Balik, Cerdas Cermat Guru jadi Solusi Melalui talkshow ini, para pendidik diharapkan semakin termotivasi untuk mengintegrasikan Canva dalam pembelajaran. Canva berkomitmen untuk mendukung pendidikan Indonesia melalui berbagai program yang membantu guru meningkatkan keterampilan mereka dalam melatih kreativitas dan berpikir kritis murid. Penulis: Siti Fatonah Editor: YOSI

Canva Dukung Guru Siap Merancang Pembelajaran ala Abad ke-21 Read More »