
Pesisir Barat, 10 Maret 2025. Di tengah tantangan pendidikan dasar di wilayah pesisir, para guru dan kepala sekolah di Kabupaten Pesisir Barat kini mendapatkan ruang baru untuk tumbuh dan saling belajar. Melalui program KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) upaya memperkuat kualitas pembelajaran kontekstual dan berpihak pada murid digerakkan secara kolektif.
Program KREASI merupakan inisiatif bersama yang didanai oleh Global Partnership for Education (GPE) dan dilaksanakan oleh konsorsium Mitra Pendidikan Indonesia, yang terdiri dari Save the Children, Guru Belajar Foundation, serta didukung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, dan Bappenas.
Peluncuran program ini menjadi langkah strategis, karena tantangan yang dihadapi tidak hanya terkait infrastruktur dan aksesibilitas, tetapi juga bagaimana guru dapat memahami dan merespons kebutuhan belajar murid secara tepat. Berdasar rapor pendidikan Pesisir Barat 2024 Maman Basyaiban, Ketua Pelaksana Guru Belajar Foundation menyatakan “Dari hasil pengukuran kompetensi literasi dan numerasi anak di jenjang dasar menunjukkan perlu perhatian khusus, hal ini tidak cukup sekadar menggunakan sosialisasi, maupun seminar.”
Ia pun menambahkan “Oleh sebab itu melalui program KREASI di Kabupaten Pesisir Barat, kami memastikan bahwa pendidik tidak hanya menerima pelatihan, tetapi juga diberdayakan untuk berkolaborasi, berbagi praktik baik, dan bersama-sama menciptakan solusi yang kontekstual bagi tantangan pendidikan di daerah. Guru Belajar Foundation percaya bahwa guru yang terus belajar dan berdaya dapat menjadi pemimpin kolektif perubahan.”
Empat Arah Dampak yang Dituju KREASI
Program KREASI dirancang untuk mendorong transformasi pada empat ranah utama. Pertama, meningkatkan kompetensi guru dan kepala sekolah terkait penggunaan kurikulum dan asesmen secara tepat dan sesuai kebutuhan murid. Penyesuaian kurikulum bukan sekadar soal mengikuti regulasi, tetapi soal memahami apa dan bagaimana murid belajar. Dalam konteks ini, guru dan kepala sekolah perlu memahami bagaimana menerjemahkan kurikulum menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
Kedua, peningkatan kebijakan dan praktik pengajaran keterampilan dasar yang setara. Karena Keterampilan dasar seperti literasi dan numerasi adalah fondasi utama bagi murid untuk belajar sepanjang hayat.
Ketiga, peningkatan kebijakan dan praktik kepemimpinan yang adil dan efektif dalam pengajaran dan pembelajaran. Kepala sekolah dan pengawas tidak hanya bertugas mengatur administrasi, tetapi menjadi pemimpin pembelajaran (instructional leaders). KREAsii diharapkan dapat mendorong budaya refleksi dan kolaborasi di antara guru.
Keempat, peningkatan kebijakan dan praktik perlindungan anak yang setara serta pencegahan berbagai risiko. “Hal ini penting, bahkan rapor Pendidikan kita menunjukkan bahwa ada sekolah-sekolah yang meskipun memiliki fasilitas terbatas, tetap mampu menunjukkan hasil literasi dan numerasi murid yang tinggi karena lingkungan yang aman dan pengelolaan kelas yang baik,” ujar Maman.
Man Magilan, KREASI – Regional Manager Save the Children wilayah Sumatera, menambahkan “melalui program ini, pelatihan dan peningkatan keterampilan pedagogik akan diupayakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan berkualitas, sehingga mampu meningkatkan hasil belajar murid serta adaptasi pendidikan terhadap perkembangan zaman.”
Harapannya, program ini dapat membangun ekosistem belajar yang berkelanjutan, di mana setiap sekolah mitra dari program KREASI menjadi agen perubahan dalam peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Tak hanya itu, guru dan kepala sekolah dapat saling mendukung satu sama lain, berbagai pengalaman, dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan inklusif.

