Strategi Penerimaan Murid Baru Agar Diminati Orang Tua

Lina Wijayanti saat menjadi narasumber webinar “Rahasia Sukses Penerimaan Murid Baru”, dalam rangkaian Festival Pemimpin Merdeka.

Kekurangan murid masih menjadi tantangan bagi banyak sekolah, baik swasta maupun negeri. Di masa penerimaan murid baru seperti saat ini, sekolah mulai masif menjalankan strategi promosi.

Namun, menurut Lina Wijayanti, guru sekaligus Wakil Direktur Bidang Pendidikan Yayasan Alkhairiyah Surabaya, sekolah perlu membangun nilai tambah (added value) yang tersampaikan ke masyarakat jika ingin usaha promosinya berhasil.

Hal ini tidak bisa hanya dilakukan pada masa penerimaan murid baru tapi sepanjang tahun secara konsisten. 

“Nilai tambah ini bagaimana kita menyeimbangkan quality in fact dan quality in perception,”  terang Lina di webinar “Rahasia Sukses Penerimaan Murid Baru” yang merupakan rangkaian belajar Festival Pemimpin Merdeka oleh Kampus Pemimpin Merdeka baru-baru ini.

Baca juga: STEAM Fair Murid SD di Babel: Timah Rusak Lingkungan

Quality in fact merupakan apa yang dimiliki dan dihasilkan oleh sekolah secara nyata. Misalnya, standar kinerja, akreditasi, tingkat kelulusan, fasilitas fisik, dan mutu pengajaran. Sedangkan quality in perception adalah bagaimana masyarakat menilai sekolah.

Strategi Daya Saing Sekolah: Positioning, Diferensiasi, dan Branding

Untuk menyeimbangkan quality in fact dan quality of perception, sekolah perlu memperhatikan tiga hal yakni positioning, diferensiasi, dan branding.

  1. Positioning

Positioning merupakan cara sekolah menempatkan dirinya di mata masyarakat terutama calon murid dan wali murid. Setidaknya ada tiga pertanyaan yang perlu direfleksikan untuk dapat menentukan positioning.

Tiga pertanyaan tersebut yakni, (1) apa kekuatan utama sekolah? (2) seperti apa citra sekolah yang ingin ditanamkan ke masyarakat?, dan (3) siapa target utama sekolah?

“Dari jawabannya kita bisa menyimpulkan positioningnya. Misalnya sekolah yang pernah saya datangi itu ada sekolah STEAM yang mendorong kreativitas dan inovasi, setiap tahun itu pasti ada festival STEAM nya,” papar Lina.

“Ketika mengidentifikasi, ditulis semua dulu hasil brainstormingnya, entah nanti mungkin ada evaluasi di tengah jalan, itu tidak apa-apa,” lanjutnya.

Baca juga:

         2. Diferensiasi

Melalui diferensiasi, sekolah menunjukkan keunikan sehingga ada added value dibanding sekolah lain. 

Beberapa hal yang perlu dijawab sekolah untuk menentukan diferensiasi adalah (1) apa program akademik inovatif yang dimiliki? (2) apa pendekatan pembelajaran yang digunakan? (3) apa saja fasilitas pendukung pembelajaran? (4) apa program ekstrakurikuler yang menjadi unggulan, dan (5) bagaimana sistem bimbingan dan konseling murid?

Baca juga: Cara Andi Zupriaty Hadapi Murid SMK dengan Stigma Nakal

“Program unggulan seperti misalnya menawarkan blended-learning. Kalau sekolah saya, karena positioningnya adalah sekolah islam, maka program unggulannya yang mendukung hal tersebut, yakni ada Ubudiyah dan Alquran Everyday,” jelas Lina.

     3. Branding

Setelah menentukan positioning dan diferensiasi, saatnya sekolah melakukan branding. Branding adalah proses komunikasi agar positioning dan diferensiasi yang dimiliki sekolah tersampaikan ke publik sehingga membentuk persepsi positif.

Ada beberapa komponen branding sekolah yakni (1) identitas visual seperti logo hingga seragam sekolah, (2) pesan dan ternilai yang tersampaikan melalui tagline, (3) reputasi dan testimoni,(4)  aktivitas promosi melalui media sosial, open house, dan partisipasi dalam lomba, dan (5) kesan positif.

Semua Warga Sekolah Terlibat

Di akhir webinar, Lina menegaskan, keberhasilan membangun persepsi di mata masyarakat perlu dilakukan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah. 

“Tidak seorang pun luput untuk menyiarkan keluar. Semua guru bahkan tendik dapat pelatihan dan pendampingan. Misal tagline kita generasi Al Quran, maka gurunya juga perlu punya kualitas tersebut,” jelas Lina.

“Atau brandingnya sekolah joyful, maka kita perlu pantau dalam pembelajaran, apa ya yang kurang? Jangan sampai brandingnya demikian, tapi ternyata tidak,” pungkasnya. (YOSI)

Liputan ini telah terbit sebelumnya pada April 2025.