Publikasi Yayasan Guru Belajar

10 Organisasi Profesi Bersatu Desak Regulasi Perlindungan Guru

  Sepuluh organisasi profesi bersatu membentuk Koalisi Perlindungan Guru dan mendesak Komisi X DPR bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk menetapkan regulasi yang tegas guna melindungi profesi guru. Organisasi profesi tersebut yakni Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI), Asosiasi Pengawas Seluruh Indonesia (APSI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Guru Belajar Foundation (GBF), Ikatan Guru Indonesia (IGI), Jaringan Sekolah Madrasah Belajar (JSMB), Komunitas Guru Belajar Nusantara  (KGBN), Komunitas Pengawas Belajar Nusantara (KPBN), Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), dan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI). Koalisi ini dibentuk atas keprihatinan dan kekhawatiran terhadap kasus-kasus kriminalisasi guru seperti yang dialami oleh Supriyani, guru honorer di Sulawesi Tenggara, yang bisa saja dialami oleh guru lain di masa mendatang. “Meski banyak upaya glorifikasi peran guru, tapi ironisnya sedikit upaya perlindungan profesi guru. Akibatnya, setiap terjadi perselisihan pembelajaran, guru ditempatkan pada posisi obyek yang dikorbankan,” kata Bukik Setiawan, ketua GBF. “Negara bertanggung jawab untuk melindungi profesi guru. Melindungi guru berarti menjalankan amanah konstitusi, mencerdaskan kehidupan bangsa,” lanjutnya dengan lugas. Achmad Zuhri, Wakil Ketua Umum Pergunu, menyoroti bahwa rentannya guru terhadap jeratan hukum dapat berdampak pada menurunnya kualitas pembelajaran. “Tindakan hukum yang tidak proporsional terhadap guru dapat menggerus semangat pendidik dan mengancam mutu pendidikan nasional,” tuturnya. Besarnya dampak terhadap perlindungan hukum yang belum jelas, perlu disikapi dengan sinergi yang mendorong pemerintah, masyarakat, dan organisasi pendidikan dalam merumuskan kebijakan yang mendukung profesi guru secara berkelanjutan. “Pentingnya payung hukum yang jelas, seperti revisi Undang-Undang Guru dan Dosen, atau regulasi baru yang melindungi guru dari ancaman kriminalisasi selama mereka menjalankan tugas sesuai prosedur,” jelas Zuhri. Untuk memperkuat desakan, koalisi membuat petisi “Tiga Tuntutan Perlindungan Guru” yang telah ditandatangani hampir 3000 orang (change.org/lindungiguru). Tiga tuntutan tersebut termasuk regulasi pelibatan orangtua dalam pembelajaran. Danang Hidayatullah, Ketua Umum IGI, menekankan bahwa komunikasi aktif dan efektif antara sekolah dan orangtua menjadi kunci dalam mendukung perkembangan anak secara holistik. “Peran orang tua di rumah sangat penting dalam menanamkan nilai, etika, dan moral untuk membentuk karakter anak. Keaktifan orang tua dalam berkomunikasi dengan guru dan pihak sekolah dapat menjembatani terciptanya proses pembelajaran yang benar-benar berpihak pada anak,” tuturnya. “Perlindungan terhadap profesi guru harus menjadi perhatian bersama dengan melibatkan kesadaran kolektif baik pemerintah, sekolah, maupun orangtua,” lanjut Danang. Senada dengan Zuhri dan Danang, Nunuk Riza Puji, Ketua Umum KGBN, menegaskan bahwa isu perlindungan guru bukan hanya tentang melindungi individu guru tapi juga memiliki hubungan erat dengan kepentingan murid dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. “Perlindungan ini bukan tameng buat guru untuk mengabaikan tanggungjawab profesional, justru dasar agar guru dapat lebih leluasa mempraktikkan keberpihakan pada murid,” terang Nunuk. Melalui petisi ini, dia berharap, kesejahteraan psikologis guru dan murid dijamin sehingga tercipta suasana pembelajaran yang positif. Guru yang merasa aman dari ancaman fisik maupun kriminalisasi dapat sepenuhnya fokus pada kebutuhan belajar murid. “Perlindungan ini juga ujungnya untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap pendidikan. Relasi orangtua dan murid dibangun di atas dasar saling percaya dan saling menghormati,” pungkasnya. (YOSI)   Koalisi Perlindungan Guru Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) – Bapak Asep Thapip Asosiasi Pengawas Seluruh Indonesia (APSI) – Bapak Agus Sukoco Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) – Ibu Tety Guru Belajar Foundation (GBF) – Bapak Bukik Setiawan Ikatan Guru Indonesia (IGI) – Bapak Danang Hidayatullah Jaringan Sekolah Madrasah Belajar (JSMB) – Bapak M. Niamil Hilda Komunitas Guru Belajar Nusantara  (KGBN) – Bapak Nunuk Riza Puji Komunitas Pengawas Belajar Nusantara (KPBN) – Ibu Wahyu Ekawati Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) – Bapak Achmad Zuhri  Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) – Bapak Fatah   Release advokasi perlindungan guru ini disebarkan pada akhir November 2024 dan telah diterbitkan oleh banyak media massa mainstream.

10 Organisasi Profesi Bersatu Desak Regulasi Perlindungan Guru Read More »

media-ajar-literasi-finansial

50 Guru Bagikan Inspirasi Media Ajar Literasi Finansial di FESTIFIN

SMBC Indonesia bersama Guru Belajar Foundation (GBF) sukses menggelar Festival Media Literasi Finansial dan Karier Protean (FESTIFIN) pada Kamis (28/10) dan Jumat (29/10) secara daring. Lebih dari 1500 peserta aktif mengikuti FESTIFIN melalui Zoom dan siaran YouTube. FESTIFIN adalah perayaan belajar peserta program Guru Kreatif Cerdas Finansial (GKCF) yang bertujuan mendukung pemberdayaan guru melalui peningkatan kompetensi literasi finansial dan pengembangan karier. Sebanyak 50 narasumber di festival ini merupakan bagian dari 187 penggerak literasi finansial yang lulus dari program GKCF. Mereka berbagi praktik baik melalui media edukasi yang telah mereka rancang. Rizqy Rahmat Hani, ketua Kampus Pemimpin Merdeka, unit pelaksana dari GBF, mengatakan, FESTIFIN merupakan langkah strategis agar dampak peningkatan literasi finansial peserta bisa meluas ke banyak guru dan murid. “FESTIFIN jadi wadah untuk guru saling memberdayakan, kemarin sudah dapat ilmu, sekarang membagikan ilmunya ke guru lain yang belum dapat kesempatan. Harapannya semua guru berdaya terhadap kondisi keuangannya, sehingga berdampak juga ketika mereka mengajar,” Guru yang melek literasi finansial berpotensi lebih besar untuk mengintegrasikan literasi finansial dalam proses belajar mengajar, mewujudkan pembelajaran yang kontekstual dengan membantu membekali murid dengan permasalahan nyata di sekitar mereka, termasuk pemahaman tentang pengelolaan finansial yang baik. Baca juga: Pelatihan Media Ajar: 3 Hal yang Penting Saat Merancang Prototipe “Guru berdaya tidak hanya mampu mengelola uang yang didapat dari gaji bulanan tapi bagaimana menambah pemasukan lewat karier protean,” tambah Rizqy. GBF menyiapkan sesi khusus mengenai pengembangan karier protean di FESTIFIN. Guru sebenarnya memiliki peluang yang luas untuk mengembangkan karier protean, seperti menjadi guru konten kreator, guru pelatih, guru pembuat media ajar, dan lainnya. Selain menambah pemasukan, karier protean meningkatkan kepuasan kerja, mendorong pengembangan diri, serta memberikan fleksibilitas bagi guru untuk berkontribusi lebih sesuai minat mereka tapi masih sejalan dengan kehidupan belajar dan mengajar di kelas.   Guru Buat Media Ajar Seru untuk Sesama Guru Tamsiruddin, guru UPTD SMP Negeri 1 Parepare, narasumber FESTIFIN, mengungkapkan, kemampuan literasi finansial guru membutuhkan perhatian. “Penghasilan guru itu seringnya 5,0, artinya masih tanggal lima atau awal bulan tapi saldo sudah 0 koma,” katanya. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengelolaan yang bijak sehingga masih terjebak cicilan non produktif. Parahnya, tidak sedikit guru yang berakhir terjerat hutang pinjaman online (pinjol) ilegal. Merespon situasi tersebut, Tamsiruddin berinisiatif membuat media edukasi Kartu CUAN. Dipresentasikan saat FESTIFIN, Kartu CUAN merupakan kalkulator sederhana untuk membantu guru mengelola pendapatan mereka agar lebih efisien. Baca juga: Membuat Media Ajar Bermakna Bisa Gunakan Artificial Intelligence “Kartu ini bisa digunakan oleh yang gajinya di atas 5 juta maupun di bawah 5 juta. Semoga kita semua bisa konsisten dan istiqomah mengelola keuangan agar bisa terhindar dari impulsive buying dan hutang non produktif. Bisa menabung bahkan investasi,” paparnya. Ada beragam media menarik lainnya, salah satunya buku dikemas menyerupai learning management system (LMS) sehingga lebih interaktif. Buku ini menuntun pembacanya untuk memahami konsep keuangan dari dasar, lengkap dengan permainan mengatur keuangan, hingga asesmen. (YMH)

50 Guru Bagikan Inspirasi Media Ajar Literasi Finansial di FESTIFIN Read More »

pendampingan projek profil

Guru Belajar Foundation Buka Pendaftaran Pendampingan AIA Healthiest Schools

Guru Belajar Foundation (GBF) melalui unit Cerita Guru Belajar menjadi kolaborator program oleh AIA yakni AIA Healthiest Schools (AHS) dan akan mendampingi 100 sekolah menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan menyenangkan. Hal ini disampaikan oleh Bukik Setiawan, ketua GBF saat sesi sosialisasi pada Jumat (20/12) yang dihadiri 1700 peserta. AHS sejalan dengan Gerakan Sekolah Sehat oleh Kemendikdasmen yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan pembelajaran murid. Nantinya pendampingan dilakukan dalam bentuk mentoring project-based learning (PjBL) sehingga relevan dan kontekstual terhadap persoalan masing-masing sekolah. Bukik Setiawan, ketua GBF, menjelaskan, melalui PjBL murid berkembang keterampilan dan karakternya karena mendapat kesempatan untuk belajar secara aktif dengan menyelesaikan masalah nyata yang menjadi keresahan mereka. “Kita sering mengatakan tujuan pendidikan kita adalah membangun karakter murid, karakter bangsa, tapi nyatanya karena banyak tuntutan dan tekanan, cita-cita kita direduksi menjadi yang sifatnya administrasi,” ungkap Bukik. Baca juga: 6000 Guru Ikut Onboarding WIT: Guru Tidak Bisa Berhenti Belajar Tujuan yang bersifat administratif adalah murid naik kelas, lulus atau mendapat nilai yang tinggi. Pencapaian tersebut membuktikan cita-cita guru dan murid hanya setinggi langit-langit ruang kelas. Untuk mencapai cita-cita setinggi langit, Bukik menegaskan, tidak bisa diwujudkan dengan latihan soal atau mendapat nilai ujian yang tinggi. Guru seharusnya menyiapkan murid menghadapi tantangan dunia nyata melalui cara-cara yang bermakna. “PjBL adalah solusi untuk murid mengembangkan dan menunjukkan kompetensinya bahwa mereka bisa merancang dan menjadi solusi atas permasalahan nyata, mengkomunikasikan untuk meyakinkan masyarakat mengenai solusinya,” lanjutnya. Wujudkan Sekolah Sehat dengan Projek yang Kontekstual PjBL memungkinkan setiap sekolah seperti apapun profilnya dapat membuat projek bermakna sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Contohnya seperti Eka Nurviana Fatma, guru SD N 1 Butuh Kabupaten Kediri yang turut menjadi narasumber sesi. Sekolah Eka berada di wilayah desa dan berhasil melaksanakan projek yang membangun kesadaran murid mengenai gaya hidup sehat. Dia bercerita, muridnya sering mengeluh lapar meskipun masih pagi hari. Ternyata mereka tidak sempat sarapan di rumah dan tidak membawa bekal. Keresahan Eka bertambah ketika mengetahui makanan instan dari kantin sekolah menjadi santapan sehari-hari para murid. Dari masalah tersebut, dia mulai merancang projek yang mendorong murid untuk sadar pentingnya makanan bergizi. Baca juga: Skor PISA Diumumkan: 3 Cara Tingkatkan Literasi Numerasi Projek diawali dengan berbagai aktivitas riset lingkungan sekolah dan literatur sehingga murid bisa merumuskan sendiri masalahnya. Sebelumnya, Eka juga mengingatkan untuk selalu mengkomunikasikan proses belajar murid ke orangtua. “Ini pun perlu dikomunikasikan dengan orangtua untuk mendapat dukungan. Kemarin ternyata informasi dari murid dan orangtua berbeda. Kata muridnya, pagi-pagi lauk belum matang, ternyata dari orangtuanya mengatakan muridnya yang memang tidak mau sarapan dan bawa bekal,” ujar Eka. Di tengah projek, mulai muncul berbagai ide solusi dari murid, salah satunya menanam sayur yang mudah di sekolah agar bisa menjadi lauk sehat untuk sarapan. Dari satu aktivitas merawat tanaman ini murid belajar banyak, seperti tanggung jawab hingga literasi dan numerasi karena harus menganalisis pertumbuhan tanaman setiap hari. “Lalu apa sih indikator keberhasilan projek ini? Indikatornya adalah konsistensi dan komitmen untuk hidup sehat berkelanjutan. Kuncinya kita sebagai guru harus sabar karena membangun konsistensi tidak mudah, ada saja tantangannya,” tutup Eka. (YOSI)

Guru Belajar Foundation Buka Pendaftaran Pendampingan AIA Healthiest Schools Read More »

media ajar literasi finansial

Workshop Uji Coba Media Literasi Finansial Bersama SMBC Indonesia

Memperingati Hari Guru Sedunia, SMBC Indonesia menggandeng Guru Belajar Foundation (GBF) dan Komunitas Guru Belajar Nusantara menggelar workshop “Pembelajaran Inovatif dan Manajemen Finansial yang Kuat” pada Sabtu (5/10) di Jakarta dan Minggu (6/10) di Yogyakarta dan Makassar. Workshop ini merupakan bagian dari bootcamp Guru Kreatif Cerdas Finansial (GKCF) yang telah berlangsung daring selama sebulan. Pada sesi daring, peserta belajar mengatur keuangan dan membuat media ajar untuk murid dengan prinsip design thinking. Sedangkan pada workshop, peserta ditantang melakukan uji coba purwarupa media ajar terkait literasi finansial. Media ajar tidak ditujukan penggunaannya untuk murid melainkan sesama guru. “Beasiswa belajar ini merupakan komitmen Bank BTPN untuk menjadi sahabatnya Bapak/Ibu guru. Kami peduli pada pendidikan dan kami percaya kemajuan pendidikan ujung tombaknya adalah guru dan kami ingin membersamai Bapak/Ibu,” kata Dody Safrizal, Area Business Leader Pension Business & Area Head Jakarta dalam sambutannya. Topik workshop lahir dari keresahan Bank BTPN dan YGB terhadap kesulitan guru dalam mengelola keuangan pribadi. Rendahnya rata-rata pendapatan guru mendorong mereka mengembangkan karier protean sehingga memiliki berbagai sumber pendapatan. Namun, hal ini tidak dibarengi dengan kecakapan mengatur keuangan. Baca juga: Membuat Media Ajar Bermakna Bisa Gunakan Artificial Intelligence “Saat kami membuka pendaftaran beasiswa ini, antusiasmenya luar biasa sekali hingga 9000 lebih pendaftar. Kami kagum terhadap semangat belajar Bapak/Ibu guru. Saya berharap Bapak/Ibu yang mendapat kesempatan belajar di sini menularkan ilmunya ke guru lain yang belum mendapat kesempatan,” tutur Dody. Uji Coba Media Ajar Literasi Finansial Dalam uji coba, peserta dibagi dalam kelompok kecil untuk memperkenalkan media ajar literasi finansial yang  sudah mereka rancang, yang kemudian dinilai oleh sesama anggota kelompok. Intan Irawati, peserta dari MAN 15 Jakarta, mengungkapkan perasaan syukurnya karena kini bisa membuat media ajar yang lebih bermakna. Dia menceritakan, setelah mengikuti sesi daring GKCF, dia sudah mulai membuat media ajar dengan design thinking untuk murid-muridnya. “Perubahan terjadi pada murid saya, mereka lebih antusias belajar fisika. Murid yang awalnya lebih banyak diam, sudah mulai berani mengemukakan pendapat. Saya pun rasanya menjadi lebih dekat dengan murid, murid tidak sungkan lagi mengemukakan kesulitan,” ungkap Intan. Baca juga: Pelatihan Media Ajar: 3 Hal Penting Saat Merancang Prototipe “Sekarang saya ditantang membuat media ajar yang dapat membantu sesama guru. Semoga media yang saya buat useful dan efektifitas tinggi agar bisa membantu meningkatkan kemampuan dalam mengelola keuangan bagi para penggunanya,” lanjutnya. Dia menceritakan pengalaman sahabatnya yang pernah datang dengan menangis, ternyata karena terlilit pinjol. Intan tidak ingin hal tersebut terjadi lagi ke orang-orang di sekitarnya, sehingga dirinya sangat bersemangat ketika mendapat tantangan dari program GKCF. Setelah uji coba, ada sesi belajar membuat konten yang diisi oleh Ria Farrabila, guru konten kreator yang video pembelahrannya sering viral di Instagram. Sesi ini mengajak peserta agar selalu membagikan praktik baik termasuk praktik membuat media ajar ke media sosial. Tujuannya agar dapat menginspirasi guru lain yang belum mendapat kesempatan menjadi penerima beasiswa GKCF. (YOSI)

Workshop Uji Coba Media Literasi Finansial Bersama SMBC Indonesia Read More »

media ajar dengan design thinking

Pelatihan Media Ajar: 3 Hal Penting Saat Merancang Prototipe

Anggayudha Ananda Rasa, atau akrab disapa Aye, pelatih Guru Belajar Foundation kembali menjadi pembicara sesi belajar mengenai media ajar. Sesi ini dilaksanakan pada Senin (9/9) secara daring via Zoom dan diikuti 800 peserta program beasiswa bootcamp “Guru Kreatif Cerdas Finansial”. Setelah menjelaskan proses design thinking untuk membuat media ajar pada pertemuan sebelumnya, kali ini Aye menjelaskan lebih dalam langkah merancang purwarupa. Purwarupa media ajar merupakan model awal dari sebuah media ajar yang dibuat untuk diuji sebelum ada versi finalnya. Purwarupa pada umumnya dibuat untuk menguji fungsi atau fitur dari media ajar sehingga jika ada hal yang belum sesuai, masih bisa diperbaiki. “Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan saat merancang purwarupa, yaitu menentukan tujuan, menentukan cara mendapatkan data, dan menentukan cara menyimpulkan hasil purwarupa,” terang Aye. Baca juga: Membuat Media Ajar Bermakna Bisa Gunakan Artificial Intelligence Pertama, setelah menentukan tujuannya, guru atau pembuat media ajar perlu menguraikan apa saja indikator dari ketercapaian tujuan tersebut. “Nah, di sini maka perlu juga kita punya hipotesis atau dugaan sementara,” jelas Aye. “Hipotesis yang baik adalah hipotesis yang dapat diuji, tepat, dan spesifik. Misalnya, bukan ‘saya percaya bahwa murid akan menyukai permainan papan siklus air ini’, melainkan ‘saya percaya lebih dari 50% murid akan suka permainan ini karena cara bermainnya mudah membantu mereka mempelajari materi siklus air’, lebih clear dan memudahkan kita membuat indikatornya kan?,” lanjut Aye. Dia juga menegaskan, jangan sampai terjebak merangkai hipotesis yang sulit, melainkan fokus pada tujuan dari pembuatan media ajar. Jika tujuannya adalah murid paham materinya, maka pastikan dari hipotesis hingga penyimpulannya memang ke arah tersebut Baca juga: Guru Belajar Foundation Luncurkan Program Cerdas Finansial Lalu untuk mengumpulkan data, Aye memberi contoh dari pengalamannya. Data bisa dikumpulkan dari survey ke murid, observasi langsung saat murid menggunakan media ajarnya, memberi asesmen ke murid, hingga refleksi. Kemudian pembat media ajar bisa menyimpulkan hasil purwarupanya, apa saja yang perlu diperbaiki atau sudah baik. “Dalam perjalanan membuat media ajar, dalam hal ini purwarupanya, perlu terus diingat kalau media ajar yang bagus bukan yang secara fisik bagus, tapi yang bermanfaat untuk murid, tujuannya ke murid. Jadi pertanyaan mendasarnya adalah apakah media ajarnya sudah sesuai dengan kebutuhan belajar murid?,” tutup Aye. (YOSI)

Pelatihan Media Ajar: 3 Hal Penting Saat Merancang Prototipe Read More »