Agustus 2025

Sebelas Ribu Guru Belajar di Temu Pendidik Nusantara XII di Daerah

Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) di Daerah telah sukses terselenggara di 44 kota/kabupaten sepanjang bulan Juni-Juli. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Guru Belajar Foundation (GBF) bersama Komunitas Guru Belajar Nusantara, Ikatan Guru Indonesia, dan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama. Tema “Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim” diusung sebagai upaya menegaskan pentingnya menciptakan suasana belajar yang berpihak pada anak termasuk urgensi kesiapan menghadapi krisis iklim yang merupakan tantangan nyata semua manusia.  Tema tersebut terdiri dari dua konsep berbeda tapi saling berpengaruh. Keduanya membutuhkan kapasitas kolektif dan mengedepankan pendekatan restoratif. Pendekatan restoratif berbicara mengenai tanggung jawab, empati, keadilan dan kesetaraan, keterlibatan semua pihak, serta relasi yang harmonis. Krisis Iklim Sangat Dekat dengan Murid Najelaa Shihab, pendiri GBF dan inisiator TPN, menjelaskan bahwa tema ini relevan dan dekat dengan seluruh ekosistem pendidikan karena iklim berbicara mengenai manusia. Dia memberi contoh isu sampah yang dihasilkan setiap orang. “Sampah itu bukan hanya pendidikan iklim tapi (juga) iklim pendidikan. Bayangin belajar di sekolah/madrasah yang penuh sampah, apa nggak mempengaruhi manusianya itu?,” paparnya saat mengisi talkshow Pembukaan TPN XII beberapa waktu lalu. Baca juga: Ratusan ‘Guru Belajar’ Diskusikan Pendidikan Iklim di Mojokerto  Menurutnya, mendorong murid proaktif terhadap krisis iklim berarti menyiapkan mereka untuk hidup. Pasalnya, menghadapi krisis iklim membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan lintas sektor. “(Hal tersebut) membutuhkan proses pembelajaran yang mendalam dan nggak bisa tiba-tiba, itu butuh proses panjang,” jelasnya. “Dan sekolah, kita, dapat amanah bersama anak-anak ini belasan tahun, adalah waktu untuk menumbuhkan semua pemahaman dan kompetensi itu,” lanjut Najelaa. Sebagai bentuk nyata dari tema yang diusung, TPN XII di Daerah menghadirkan beragam ruang belajar, yakni Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, Talkshow Pendidikan, Cerdas Cermat Guru, Pameran Karya Murid, dan Pasar Solusi Pendidikan. Sebanyak 525 pendidik berbagi praktik baik di Kelas Pendidik dan Kelas Pemimpin dengan lebih dari 11.000 peserta. Beberapa diantaranya mengenai disiplin positif, pembelajaran berdiferensiasi, media ajar, menghidupkan kombel, serta pelibatan masyarakat. Bukan Guru Hebat, TPN Adalah Ruang untuk Guru Belajar Abdulaziz Hafidhurrahman, ketua TPN XII, mengatakan, kelas ini memberikan ruang tumbuh bagi guru dengan belajar dari guru lainnya yang sudah terbukti menggerakkan perubahan pada level kelas, sekolah/madrasah, hingga komunitas dan daerah. “Di TPN kita tidak belajar dari pakar tapi dari sesama pendidik. Kita bukan “Guru Hebat” melainkan “Guru Belajar” karena semua yang hadir, baik peserta maupun pembicara, datang untuk belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama,” tutur Abdulaziz. Tidak hanya belajar dari sesama pendidik, TPN XII juga memfasilitasi belajar dari murid melalui Pameran Karya. Total 275 karya dipamerkan, menampilkan beragam gagasan, kreativitas, dan kepedulian murid terhadap isu-isu di sekitar mereka. Cerdas Cermat Guru: Pemantik Percakapan Tantangan Keseharian Guru Selain itu ada Cerdas Cermat Guru (CCG), cara belajar baru dan seru yang diikuti 1139 tim. Berbeda dengan program pengembangan kompetensi guru pada umumnya, CCG membantu guru mengetahui level kompetensinya. Baca juga: Kelas Pendidik & Pemimpin di Kota Makassar: Ruang Kolaborasi Antar Pendidik Setiap peserta mendapat Piagam Level Pengakuan Kompetensi dan umpan balik personal. Rumusannya berdasar pada Perdirjen GTK No. 2626 tahun 2023 tentang Model Kompetensi Guru. “CCG yang dirancang dengan format situational judgment test, yakni sesuai dengan keseharian guru, juga diharapkan memantik guru menjadikan tantangan di kelas dan solusinya menjadi percakapan sehari-hari,” terang Abdulaziz. Di bulan Agustus, TPN XII di Daerah masih akan berlangsung di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Setelah itu, seluruh pendidik akan diundang untuk hadir di Puncak TPN XII pada 11-12 Oktober mendatang di Sekolah Cikal Lebak Bulus. “Kami berharap, semangat belajar yang terbangun ketika TPN XII di Daerah tidak berhenti saat kegiatan selesai. Tapi menjadi titik awal keberlanjutan untuk saling belajar, menguatkan, dan membangun iklim pendidikan yang berpihak pada murid,” tutup Abdulaziz. (YOS)

Sebelas Ribu Guru Belajar di Temu Pendidik Nusantara XII di Daerah Read More »

Najelaa Shihab Soroti Urgensi Peran Berbagai Pihak untuk Pendidikan

Najelaa Shihab, pendiri Guru Belajar Foundation, hadir pada hari pertama penyelenggaraan Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) pada Sabtu (12/07).  Najelaa membersamai 1000 lebih guru belajar dengan menjadi pembicara talkshow, bagian dari rangkaian TPN XII di Kab. Sidrap.  Pada kesempatan itu, dia menekankan pentingnya guru sebagai penumbuh serta urgensi kolaborasi untuk pendidikan. Lokasi penyelenggaraan yang berada di alam terbuka, tepatnya di Hutan Kota Monumen Ganggawa, menurutnya memberi keuntungan tersendiri bagi peserta. “TPN sudah 12 tahun, belum pernah saya datang TPN dalam situasi seperti ini, betul-betul mengingatkan kita betapa pentingnya peran penumbuh,Betul-betul mengingatkan kita betapa pentingnya peran penumbuh,” kata Najelaa. Baca juga: PW Pergunu DIY Sukses Gelar Temu Pendidik Nusantara XII di Kab. Sleman “Mudah-mudahan ini juga mengingatkan kita bahwa manfaat kita apa yg sedang kita coba lestarikan itu jauh lebih panjang usianya daripada usia kita sebagai guru, insyaAllah jauh lebih panjang manfaatnya dibanding umur kita sebagai manusia,” lanjutnya setelah membahas usia pohon di sekitar yang mungkin berumur ratusan tahun. Maka dari itu, Najelaa menuturkan bahwa menjadi seorang guru adalah keberuntungan. Pasalnya, guru mendapat tanggungjawab yang merupakan kehormatan luar biasa.  Namun, dia mengingatkan, untuk menjadi seorang penumbuh, guru harus percaya bahwa murid punya bibit belajar dalam diri mereka. Murid datang ke ruang kelas dengan ambisi dan cita-citanya. “Mereka datang ke ruang kelas membawa sesuatu, bukan cuma menunggu dicekoki sesuatu,” tegasnya. Najelaa juga mengajak peserta untuk merefleksikan ajakan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, pada sambutan sebelum talkshow, untuk memiliki standar yang tinggi dalam menjalankan profesi guru. Dengan demikian, murid pun dapat tumbuh dan memberi dampak melampaui ruang kelas dan batas kabupaten. Pentingnya Kolaborasi untuk Pendidikan Di akhir paparan, Najelaa menyampaikan harapan agar guru aktif membangun kolaborasi. Sebaliknya juga mendorong agar seluruh stakeholder terbuka untuk kerjasama menguatkan pendidikan. “Murid-murid kita hidup dalam konteksnya, maka di TPN ini kita bicara “Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim” itu tidak ditentukan oleh satu dua orang, sama seperti udara, sama seperti cuara, yang menentukan bukan satu dua orang, bukan satu dua faktor, (melainkan) ditentukan oleh kolaborasi semua dari kita,” terangnya. Baca juga: Hari Pendidikan Nasioanl: Sistem Pendidikan Indonesia Butuh Arah yang Jelas  Menurutnya, banyak isu di ruang kelas, yang sebenarnya bukan masalah anak, bukan salah guru, melainkan terjadi karena iklim yang sudah terjadi puluhan tahun di sistem pendidikan kita. “Maka harapan saya, tugas utama sebagai guru, sebagai penumbuh adalah juga menumbuhkan jaringan, menumbuhkan kolaborasi, menguatkan kerjasama dengan siapapun. Dengan organisasi-organisasi profesi, dengan orangtua, dengan pedagang UMKM, dengan penggerak lingkungan hidup,” tukas Najelaa. “Titip harapan juga agar organisasi perangkat daerah (OPD), tidak hanya disdik, tidak hanya kanwil agama, tapi semua bagian dari pemerintahan melihat bahwa pendidikan itu hulu dan hilirnya banyak masalah,” tutupnya. Temu Pendidik Nusantara XII di Daerah telah sukses berlangsung di 45 daerah dengan total 12.000 lebih peserta. Lalu Puncaknya akan diselenggarakan pada 11-12 Oktober di Jakarta. (YOSI)

Najelaa Shihab Soroti Urgensi Peran Berbagai Pihak untuk Pendidikan Read More »

WWF Indonesia dan Guru Belajar Foundation Luncurkan Buku Panduan Keluarga Bebas Sampah

World Wide Fund for Nature Indonesia (WWF Indonesia) bersama Guru Belajar Foundation (GBF) meluncurkan buku panduan elektronik “Keluarga Bebas Sampah: Refleksi dari Rumah untuk Bumi yang Lebih Baik” baru-baru ini secara daring. Buku ini merupakan respon atas isu iklim yang seringkali terasa jauh dan abstrak, padahal dampaknya mempengaruhi keluarga, baik hari ini maupun masa depan. Karya kolaboratif ini memberikan panduan praktis bagi keluarga untuk memulai perjalanan gaya hidup bebas sampah.  “Buku ini sekaligus mengajak untuk kita bersama-sama berkomitmen bagaimana menciptakan lingkungan sekolah dan juga rumah. Karena kita tahu pastinya perubahan kecil itu semuanya berawal juga dari rumah,” jelas Dwi Widya Mutiara, Education Officer WWF Indonesia.  Baca juga: Deep Learning Kembalikan Esensi Peran Guru Dwi berharap, buku ini dapat memperkuat peran keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dan mendukung gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan minim sampah. “Kita yakin ini adalah kolaborasi bersama untuk kita wujudkan lingkungan kita menjadi lebih baik. Dan pastinya kita harus memulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, dan mulai dari hal kecil,” ucap Dwi. “Sekolah bebas sampah bukan mimpi. Kita tahu dan kita bisa kalau kita mau bergerak bersama,” lanjutnya. Buku elektronik ini akan digunakan oleh sekolah dampingan WWF dan GBF dalam program Zero Waste School. Namun, aksesnya gratis dan terbuka untuk seluruh sekolah dan keluarga yang ingin ambil bagian dalam upaya menciptakan gaya hidup berkelanjutan. Terdiri dari 19 halaman, buku ini ditulis dengan memadukan beberapa gaya penulisan, dari persuasif, naratif, hingga informatif. Di awal, pengguna buku akan diajak membayangkan bagaimana gaya hidup sehari-sehari berdampak pada lingkungan dan kualitas hidup. Baca juga: Respon Pendidik terhadap Sekolah Barak: Mendidik Tidak Bisa Instan Lalu dilengkapi dengan lembar aktivitas, praktik baik, pemantik diskusi, hingga rekomendasi bacaan atau tontonan lanjutan. “Buku ini mungkin nggak bisa langsung membuat sampah di rumah jadi semakin sedikit, tetapi harapan saya buku ini jadi pembuka percakapan dulu bahwa sebetulnya ini tuh (zero waste) bisa jadi sesuatu yang kita usahakan,” terang Puty Puar dari Buibu Baca Buku, yang turut menyusun buku ini bersama GBF. “Justru yang paling penting disampaikan pertama kali kepada orang tua dari buku ini adalah bagian awalnya, bagian kenapanya, itu yang penting. Kadang kita tahu harus memilah sampah, tapi kita nggak tahu kenapanya” lanjutnya. Menurut Puty, kolaborasi antara sekolah dan orangtua akan memberikan dampak yang signifikan. Dia yakin, pesan gerakan zero waste akan lebih mudah diterima oleh orangtua jika disampaikan oleh guru. “Apalagi kalau sudah bisa jadi bagian dari tugas sekolah atau refleksi bersama di sekolah, ini bisa lebih besar dampaknya,” tutup Puty.  (YOSI)

WWF Indonesia dan Guru Belajar Foundation Luncurkan Buku Panduan Keluarga Bebas Sampah Read More »

Strategi Penerimaan Murid Baru Agar Diminati Orang Tua

Kekurangan murid masih menjadi tantangan bagi banyak sekolah, baik swasta maupun negeri. Di masa penerimaan murid baru seperti saat ini, sekolah mulai masif menjalankan strategi promosi. Namun, menurut Lina Wijayanti, guru sekaligus Wakil Direktur Bidang Pendidikan Yayasan Alkhairiyah Surabaya, sekolah perlu membangun nilai tambah (added value) yang tersampaikan ke masyarakat jika ingin usaha promosinya berhasil. Hal ini tidak bisa hanya dilakukan pada masa penerimaan murid baru tapi sepanjang tahun secara konsisten.  “Nilai tambah ini bagaimana kita menyeimbangkan quality in fact dan quality in perception,”  terang Lina di webinar “Rahasia Sukses Penerimaan Murid Baru” yang merupakan rangkaian belajar Festival Pemimpin Merdeka oleh Kampus Pemimpin Merdeka baru-baru ini. Baca juga: STEAM Fair Murid SD di Babel: Timah Rusak Lingkungan Quality in fact merupakan apa yang dimiliki dan dihasilkan oleh sekolah secara nyata. Misalnya, standar kinerja, akreditasi, tingkat kelulusan, fasilitas fisik, dan mutu pengajaran. Sedangkan quality in perception adalah bagaimana masyarakat menilai sekolah. Strategi Daya Saing Sekolah: Positioning, Diferensiasi, dan Branding Untuk menyeimbangkan quality in fact dan quality of perception, sekolah perlu memperhatikan tiga hal yakni positioning, diferensiasi, dan branding. Positioning Positioning merupakan cara sekolah menempatkan dirinya di mata masyarakat terutama calon murid dan wali murid. Setidaknya ada tiga pertanyaan yang perlu direfleksikan untuk dapat menentukan positioning. Tiga pertanyaan tersebut yakni, (1) apa kekuatan utama sekolah? (2) seperti apa citra sekolah yang ingin ditanamkan ke masyarakat?, dan (3) siapa target utama sekolah? “Dari jawabannya kita bisa menyimpulkan positioningnya. Misalnya sekolah yang pernah saya datangi itu ada sekolah STEAM yang mendorong kreativitas dan inovasi, setiap tahun itu pasti ada festival STEAM nya,” papar Lina. “Ketika mengidentifikasi, ditulis semua dulu hasil brainstormingnya, entah nanti mungkin ada evaluasi di tengah jalan, itu tidak apa-apa,” lanjutnya. Baca juga:          2. Diferensiasi Melalui diferensiasi, sekolah menunjukkan keunikan sehingga ada added value dibanding sekolah lain.  Beberapa hal yang perlu dijawab sekolah untuk menentukan diferensiasi adalah (1) apa program akademik inovatif yang dimiliki? (2) apa pendekatan pembelajaran yang digunakan? (3) apa saja fasilitas pendukung pembelajaran? (4) apa program ekstrakurikuler yang menjadi unggulan, dan (5) bagaimana sistem bimbingan dan konseling murid? Baca juga: Cara Andi Zupriaty Hadapi Murid SMK dengan Stigma Nakal “Program unggulan seperti misalnya menawarkan blended-learning. Kalau sekolah saya, karena positioningnya adalah sekolah islam, maka program unggulannya yang mendukung hal tersebut, yakni ada Ubudiyah dan Alquran Everyday,” jelas Lina.      3. Branding Setelah menentukan positioning dan diferensiasi, saatnya sekolah melakukan branding. Branding adalah proses komunikasi agar positioning dan diferensiasi yang dimiliki sekolah tersampaikan ke publik sehingga membentuk persepsi positif. Ada beberapa komponen branding sekolah yakni (1) identitas visual seperti logo hingga seragam sekolah, (2) pesan dan ternilai yang tersampaikan melalui tagline, (3) reputasi dan testimoni,(4)  aktivitas promosi melalui media sosial, open house, dan partisipasi dalam lomba, dan (5) kesan positif. Semua Warga Sekolah Terlibat Di akhir webinar, Lina menegaskan, keberhasilan membangun persepsi di mata masyarakat perlu dilakukan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah.  “Tidak seorang pun luput untuk menyiarkan keluar. Semua guru bahkan tendik dapat pelatihan dan pendampingan. Misal tagline kita generasi Al Quran, maka gurunya juga perlu punya kualitas tersebut,” jelas Lina. “Atau brandingnya sekolah joyful, maka kita perlu pantau dalam pembelajaran, apa ya yang kurang? Jangan sampai brandingnya demikian, tapi ternyata tidak,” pungkasnya. (YOSI) Liputan ini telah terbit sebelumnya pada April 2025.

Strategi Penerimaan Murid Baru Agar Diminati Orang Tua Read More »

Hari Pendidikan Nasional: Sistem Pendidikan Indonesia Butuh Arah yang Jelas

Merefleksikan Hari Pendidikan Nasional, Bukik Setiawan, ketua Guru Belajar Foundation, menuturkan, agar hari penting ini digunakan sebagai pengingat arah pendidikan kedepan. Bukik mengibaratkan pendidikan Indonesia saat ini menggunakan kompas tanpa arah utara. “Jarumnya terus bergerak, tapi tak pernah menunjuk utara. Kadang ke kanan, kadang ke belakang, kadang memutar, kadang diam pura-pura sibuk,”  “Yang pasti, ia membuat kita tampak seperti bergerak, meski sebenarnya hanya berputar di tempat,” tuturnya. Dengan perjalanan lebih dari sepuluh tahun mendampingi guru dari 150 daerah, Bukik menegaskan pendidikan Indonesia tidak butuh sistem yang sibuk mengganti istilah alih-alih mendengarkan pengalaman di lapangan. Sebagian kebijakan dikembalikan ke masa lalu atau ada yang dihentikan. Masalahnya, perubahan dilakukan tanpa evaluasi yang jelas dan konsistensi arah sehingga kembali mengorbankan murid dan guru.  “Kita butuh keberanian untuk menata ulang arah. Menjadikan evaluasi sebagai alat belajar, bukan alat untuk menakuti. Mengarah pada kesesuaian lokal, bukan mengejar perbandingan global. Guru sebagai pemimpin belajar bukan sekadar pelaksana format administrasi,”  “Mari kita jujur, mampukah sistem saat ini mampu melahirkan generasi yang utuh secara nilai dan nalar?” tukas Bukik. Dia menyoroti berbagai situasi nyata terkini seperti krisis iklim, perubahan pola kerja, hingga kecerdasan buatan. Murid membutuhkan kompetensi berpikir kritis, bekerjasama, dan empati yang tidak didukung oleh sistem pendidikan saat ini. Guru Perlu Bangun Solidaritas Maurensyiah, guru SMA Negeri 22 Makassar menyepakati apa yang disampaikan oleh Bukik. Sebagai guru, dirinya mengaku merasa sering terombang-ambing oleh perubahan kebijakan yang tidak terasa esensial. “Kita seringkali jadi melupakan esensi dari mendidik, menumbuhkan empati, bernalar kritis, dan peduli pada kebahagiaan murid. Kebijakan seharusnya memberi ruang bagi guru untuk terus mengembangkan kreativitas agar dapat bertumbuh bersama murid,” katanya. Sebagai ketua Forum Guru Indonesia dan penggerak Komunitas Guru Belajar Nusantara, dia mengajak agar seluruh guru lantang menyuarakan apa yang paling penting dan menolak perintah kosong yang hanya menambah beban administratif. Dia juga mengingatkan guru agar membangun solidaritas dan saling berbagi praktik baik untuk menghadapi berbagai tantangan di kelas. Guru tidak harus menunggu kebijakan pusat berubah tapi dapat memulai dari hal-hal kecil yang berdampak untuk murid. “Guru bisa mulai menerapkan hal-hal kecil seperti rajin berefleksi, melakukan penilaian formatif yang sifatnya memberikan umpan balik, mendesain proyek berbasis kearifan lokal, ataupun  mengajak diskusi murid tentang isu nyata di sekitarnya,” sarannya. “Saya yakin aksi atau perubahan sekecil apa pun akan dapat menumbuhkan keberanian, hal ini dapat  menginspirasi guru-guru dan menjadi awal perubahan pendidikan jadi lebih baik,” lanjutnya. Dia berharap, Hari Pendidikan Nasional tidak hanya seremoni tapi momentum menegaskan arah pendidikan yang dilandasi memanusiakan hubungan, kontekstual, dan memberdayakan guru serta murid. (YOSI) Press release ini telah terbit sebelumnya pada 2 Mei 2025.

Hari Pendidikan Nasional: Sistem Pendidikan Indonesia Butuh Arah yang Jelas Read More »